Update Film • Komunitas • Info Nonton • Medan
Home About Contact
Breaking

Review Film Animasi 100 Meters

 filmmedan.id, 5 Januari 2026, 21:40 WIB


Immanuel Prasetya Gintings
Tim Redaksi



MEDAN, filmmedan.id  FilmMedan baru saja menamatkan 100 Meters (ひゃくえむ。/ Hyakuemu.). Kalau dilihat sekilas, premis film ini terasa "kecil"—cuma soal lari 100 meter. Apa menariknya? Tapi jangan salah, dampaknya luar biasa. Diadaptasi dari manga karya Uoto dan disutradarai Kenji Iwaisawa, film yang sekarang sudah tersedia di Netflix ini membuktikan satu hal: kau tidak butuh ledakan gedung untuk memacu adrenalin. Cukup lintasan lari dan ego laki-laki yang terbakar habis-habisan.

Ceritanya fokus pada Togashi, bocah yang terlahir dengan bakat lari di atas rata-rata; baginya, menang adalah rutinitas, bukan hasil kerja keras. Namun, kenyamanannya terusik oleh Komiya, murid pindahan yang teknik larinya berantakan tapi punya mental baja. Togashi, dengan naifnya, mengajari Komiya, tanpa sadar bahwa dia sedang membentuk rival yang kelak akan menghantuinya bertahun-tahun. FilmMedan melihat ini bukan sekadar film olahraga, tapi sebuah studi karakter. Ini tentang ego, harga diri, dan ketakutan mendasar seorang pria saat menyadari dia bukan lagi satu-satunya yang terhebat.

Poin paling kuat di sini adalah visualnya. Lupakan klise anime olahraga yang penuh montage dramatis dan teriakan persahabatan yang cengeng. Di sini, setiap sprint terasa mentah dan fisik. Napas yang memburu, otot yang menegang, ritme langkah yang menghantam tanah—semuanya terasa nyata. Para kritikus menyorot penggunaan teknik rotoscoping (merekam gerak aktor asli lalu dijadikan animasi) oleh studio Rock ’n’ Roll Mountain, dan FilmMedan setuju: hasilnya adalah pergerakan yang dinamis, tajam, dan punya nuansa dokumenter yang hidup.

Urusan audio, proyek ini digarap serius. Musik latar dari Hiroaki Tsutsumi bekerja efektif menjaga ketegangan tanpa harus mendikte emosi penonton secara murahan. Ditambah lagi, lagu tema "Rashisa" dari Official Hige Dandism menutup film dengan elegan—emosional, tapi tidak berlebihan.

Tentu, FilmMedan sadar narasinya tidak sempurna. Seperti yang disebut beberapa ulasan di Rotten Tomatoes, alurnya kadang terasa terlalu lempeng dan kurang basa-basi. FilmMedan sepakat; dramanya memang langsung menghantam ke inti masalah. Tapi justru di situ kekuatannya. Konflik Togashi–Komiya disajikan secara telanjang dan jujur. Ini bukan soal siapa yang paling cepat sampai finis, tapi siapa yang punya nyali berdamai dengan diri sendiri saat kalah.

Kesimpulan FilmMedan: 100 Meters bukan tontonan buat mereka yang cari hiburan kartun ringan. Ini tontonan buat kau yang punya rival, pernah merasa iri, atau terobsesi menjadi "lebih". Saat adegan larinya memuncak, FilmMedan rasanya ikut terseret ke lintasan dengan satu pertanyaan yang menohok: kalau hidup cuma ditentukan dalam sprint 10 detik, kau berlari untuk apa?