Namamu Kata Pertamaku (2018)
Namamu Kata Pertamaku, merupakan sebuah judul film terbaru hasil karya sineas Makassar, dari rumah produksi Paramedia Indonesia pimpinan Syahrir Arsyad Dini atau lebih dikenal dengan nama Rere Art2tonic, yang dipersembahkannya di tahun 2018 ini, dan akan segera tayang di bioskop seluruh Indonesia
Film karya Rere Art2Tonic kembali menyuguhi film yang mengangkat kearifan lokal, Produser Syahrir Aryad (Rere) mengungkapkan, Film yang banyak mengambil lokasi shooting di daerah Malino Kabupaten Gowa ini menyuguhkan kisah yang sanggup membuang emosi penontonnya.
Ia mengungkapkan, bahwa film tersebut mengisahkan seorang lelaki bisu diperankan oleh Adipati Dolken. Yang melakukan perjalanan ke Toraja untuk berobat, agar bisa berbicara.
“Mengapa Toraja? Karena di sana ada ritual Manene, yang dimana ritual itu dipercaya bisa membuat orang mati pun bisa berjalan, apalagi hanya orang bisu seperti dirinya pasti bisalah disembuhkan,”ucap Rere sapaan akrabnya.
Sebagai pemeran sosok lelaki bisu berusia 25 tahun, dengan kesehariannya selalu berpenampilan kumal tersebut, tak lain adalah seorang aktor ganteng, berbakat, dan berprestasi, yang sudah melanglang buana didunia perfilman nasional kita, yakni Adipati Dolken.
Dan gadis cantik dengan hati lembut dan penuh empati, yang dianugrahi kepribadian luar biasa baik, karena tanpa mengenal pamrih akan senantiasa memberikan bantuannya kepada seorang lelaki kumal serta bisu, tak lain diperankan oleh Rania Putrisari, Finalis Gadis Sampul 2009, dan merupakan pemeran Kartini dalam film Surat Cinta.
Bagi pencinta film Indonesia, mari memamanjakan diri dan menghilangkan rasa penasaran kita terhadap film ini, yang direncanakan mulai tayang pada tanggal 29 November 2018, diseluruh bioskop se-Indonesia.
Dengan mengusung lagu berjudul Tak Sempurna, sangat sejalan dengan rangkaian isi dari film ini, apalagi diperdengarkan lewat olah vocal Randy Wijazz, yang telah diaransemen musiknya oleh Jhaka Wijazz, semakin memainkan emosi kita dalam menontonnya.
Menurut Andi Noufah Patadjangi, salah satu pemain yang dilibatkan dalam film ini, saat dihubungi melalui sambungan telepon mengatakan, “film ini sangat luar biasa, karena dapat memacu adrenalin kita semua, dengan menyuguhkan sebuah kisah unik, menyedihkan, namun sarat akan makna.”
Bagaimana kalau kalian tonton langsung trailernya di bawah ini dan berikan komentar kalian di halaman ini?
Sutradara : Rere Art2tonic
Produser : Hendra Sirajuddin
Produksi : Paramedia Indonesia
Penulis : Rere Art2tonic M Rizal Saputra
Negara : Indonesia
MPAA :13 Tahun +
Durasi : 94 Menit
Bintang Film : Adipati Dolken
Rania Putrisari
Bahasa :Indonesia
Beasts Kedua Mengecewakan di Pembukaan
Medan - Film Medan, Sekuel fantasi "Fantastic Beast: The Crimes of Grindelwald" menduduki puncak box-office global seperti yang diharapkan, tetapi jumlah yang dihasilkan sangat memuaskan.
Di dalam negeri film ini mengecewakan, mengeluarkan biaya sebanyak $ 62,2 juta dan hasilnya tidak sesuai ekspektasi yang diharapkan bisa melebihi angka $ 70 juta seperti film pertama mereka. Selain itu, bukan hanya kritik yang tidak mengesankan dengan film ini (40% di Rotten Tomatoes), pemirsa juga memberikannya nilai B + CinemaScore - turun dari nilai A yang didapatkan pertama kali.
Namun, penonton dari luar negeri telah menyukai film tersebut. Blockbuster mendapat $ 191 juta di luar AS yang mengalahkan ekspektasi - meerubah pendapatan total global menjadi $ 253 juta - jauh di atas pembukaan pertama yaitu $ 220 juta. Di dalam negeri, hal yang sama terlihat pada "The Grinch" dan "Bohemian Rhapsody" yang berada di urutan kedua dan ketiga.
Semua bernasib lebih baik daripada dua pembuka lainnya di AS minggu ini - remake "Widows" yang diakui secara kritis dan komedi Mark Wahlberg yang kurang dihormati "Instan Keluarga" yang berada di posisi kelima dengan $ 12,7 juta dan keempat dengan $ 14,7 juta. Meskipun anggaran rendah-menengah, keduanya akan berjuang untuk mencapai profitabilitas dan sudah dilihat sebagai hal yang mengecawakan di box-office.
Hal yang sama tampaknya benar untuk calon pesaing potensial "Green Book" yang memulai debutnya pada 25 layar yang solid tetapi tidak mencatat rata-rata layar $ 12,480 - dan itu meskipun ada dorongan pemasaran yang besar. Disney "The Nutcracker and the Four Realms" jatuh ke urutan keenam dalam outing kedua dengan hanya $ 4,7 juta. [Nindi Satriani]
Sumber: http://www.darkhorizons.com/beasts-both-underwhelms-overperforms/
Pameran Harry Potter: A History of Magic di New York
Medan - Film Medan, Pameran yang dibuka sejak bulan Oktober 2018 ini akan berlangsung hingga 27 Januari 2019, menampilkan penggabungan dari sejarah kehidupan nyata cerita rakyat dan sihir yang mempengaruhi penciptaan dunia Harry Potter dengan menyajikan lebih dari 100 benda berbau sihir.
Buku seri Harry Potter yang mulai terkenal pada 20 tahun lalu, menjadi awal kecintaan terhadap dunia sihir yang terus bertumbuh sejak itu. Setelah sukses berkeliling di perpustakaan Inggris, pameran Harry Potter: A History of Magic ini melanjutkan perjalannya ke New York, yang menawarkan pemandangan dunia magis yang diciptakan oleh J.K. Rowling.
Pengunjung dapat menyaksikan harta lama dari koleksi British Library dan New York Historical Society, yaitu arsip asli dari penerbit Harry Potter, Scholastic dan milik Rowling sendiri. Sambil berjalan-jalan, pengunjung dapat menjelajahi ruang-ruang kelas yang bertema Hogwarts dan belajar tentang mantra kuno dari film favorit Harry Potter, dengan tambahan kesempatan untuk melihat draf dan sketsa dari Rowling dan ilustrator Jim Kay. Pengunjung juga dapat menyaksikan pajangan peti yang berisi salinan dari Harry Potter and the Sorcerer’s Stone, dan melihat jubah tembus pandang yang dipakai oleh Harry Potter.
Untuk memperingati ulang tahun ke-20 publikasi Harry Potter and the Sorcerer’s Stone milik Rowling, pengunjung dapat melihat karya seni sampul yang dirancang oleh ilustrator Brian Selznick untuk edisi ulang dari seri tersebut. Pengunjung juga dapat melihat kostum dan model set dari drama Harry Potter and the Cursed Child yang memenangkan penghargaan.
Pameran tersebut tidak hanya menampilkan arsip asli dari Rowling, tetapi juga barang-barang yang dipinjam dari Museum of Witchcraft and Magic di Boscastle seperti sapu asli dari penyihir abad ke-20, Olga Hunt, tongkat sihir serpentine dan kuali yang dapat meledak.
Pameran tersebut disertai dengan tur audio khusus yang menyediakan konten mendalam dari objek yang dilihat dengan pengisi suara dari bintang Game of Thrones, Natalie Dormer.
Selain pameran A History of Magic dan musikal Cursed Child Broadway, film Fantastic Beasts and Where to Find Them: The Crimes of Grindelwald dirilis pada November 2018.
Pameran tersebut dilengkapi dengan buku panduan: Harry Potter: A Journey Through a History of Magic. Harry Potter: A History of Magic akan berlangsung hingga 27 January 2019. Tiket dapat dibeli secara online. [Marnike Marpaung]
Gatot Kaca Fantasy-Games Will Enliven the Indonesian Film Industry
Medan, Film Medan - Fantasy-action film Satria Dewa: Gatotkaca will soon enliven the Indonesian film industry with Gatotkaca puppet characters as superheroes.
By the production house maker,
Satria Dewa MagMA Entertainment, the film directed by Charles Gozali will be
aimed at the audience of Generation Z or millennial.
"How do you do something, in
the form of Dewa Studio's work, so that when he (Gatotkaca) appears, our
picture can be accepted because this film is aimed at Z and Millennials,"
said Linda Gozali, the film's producer, at the shooting location for the film's
teaser in the Kotra Tua area, Jakarta,
Sunday (11/18/2018).
Linda also said that, planned, the
film will star Bayu Oktora and M Adhiyat. The film will involve many
filmmakers from the country who are experienced in producing a work that can be
appreciated by many people.
Cinematography will be handled by
Hani Pradigya, nominee for the 2018 Indonesian Film Festival for the Best
Cinematography Director category through the film Wage. The artistic will be
held by Ade Gimbal.
"Costumes, Nindi. Chris Lee are
from the design. CGI is assisted by Imagia Studios, which has Reino
Barack," Linda said.
Now, continued Linda, the movie
teaser Satria Dewa: Gatotkaca is being made and the film's script is being
matured.
"We must consider the story
too. Currently the script is still being developed, the author is Asaf
Antariksa, younger brother of Garin Nugroho, assisted by Bagus Bramanti,
who wrote (scenario) Kartini, Talak Tiga too," Linda said.
This article has been aired on
Kompas.com entitled "Gatotkaca" Is judged to be able to defeat Superman on
the big screen" [ Eva
Serviyana]
Standup Film Medan - Gelaran Menuju Kongkows Film Medan 2019
Medan, Film Medan- Dalam rangka Gelaran Menuju Kongkows Film Medan 2019, Yayasan Sinema Manuprojectpro Indonesia mengadakan kegiatan Roadshow pertama " Standup Film Medan". Dalam program ini, semua hal tentang film yang selama 13 tahun program yang telah digeluti oleh tim Manuprojectpro, ditambah apa alasan terbesar Manuprojectpro mengadakan Kongkows Film Medan 2019 nanti akan dibongkar semua.
Acara Gelaran Menuju Kongkows Film Medan 2019 in cocok untuksemua masyarakat perfilman yang masih senang dengar ocehan anak Medan, bukan bermaksud melucu, tapi ajang orasi yang kami rangkum dengan ilmu dasar perfilman serta aplikasi teori yang kami hadapi selama berproses film di Kota Medan.
Event Kongkows Film Medan yang akan menambah pengetahuan dan kesempatan untuk berada di lingkungan ekosistem film yang sebenarnya di kota Medan.
Di atas panggung nanti akan bersuara orang - orang ( Yang kebetulan Kalak Karo semua ), tentang film dan Medan. Nah, untuk yang penasaran, akan ada pra-event Kongkows Film Medan untuk pemanasannya dulu. Ada Stand-Up Medan's Movie Movement, yang menarik dan mendengar seperti apa sebenarnya dunia perfilman itu. Ada Dr. Immanuel Prasetya Gintings, M.Hum., seorang sineas yang juga assessor film akan angkat bicara di dalam event ini selaku pembicara Utama.
Untuk session pagi jam 09:00 WIB akan ada opener dari crew iNewsTV Medan, Eka Rina yang akan bicara betapa hebohnya behind-the-scene kerja di stasiun TV dan curhatannya yang selalu senyum walau film karya anak medan yang ditontonnya kurang sreg.
Untuk opener utama pagi dan siang akan ada Okky Putra Barus, akademisi, digital expertise, plus pemilik Production House di Medan. Yang ini gak diragukan lagi segudang pengalamannya di bidang audio visual.
Untuk session siang jam 14:00 WIB akan ada opener, seorang YouTuber dan Penggiat Dunia Digital, Badia Tarigan Silangit yang akan curhat mengenai kegelisahannya jadi penggemar film yang rajin ngisi absen ke bioskop, bahkan sampai langganan TV Digital berbayar di rumahnya.
Ditambah dengan suguhan special performance dari The NUNA, dengan single terbaru mereka "Pasti Terganti".
Mungkin ini adalah kesempatan langka bisa menyatukan sosok - sosok hebat ini di atas panggung dan memegang mic yang sama.
Mungkin ini adalah kesempatan langka bisa menyatukan sosok - sosok hebat ini di atas panggung dan memegang mic yang sama.
Jangan sampai terlewatkan, Acaranya sendiri akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 10 November 2018 bertempat di Taman Budaya Sumatera Utara, Jalan Perintis Kemerdekaan Medan. Harga Tiket 35.000,- sudah termasuk sertifikat dan snack tersedia.
Acara ini terbagi dua session yaitu session 1: dimulai jam 09:00 pagi dan session 2 mulai jam 14:00 siang. Untuk informasi lebih lanjut, peserta dapat menghubungi panitia pelaksana Jeje (081362555185)
Indonesia Terbaik di 75th Venice International Film Festival
Medan, Film Medan - Kabar membanggakan datang dari ajang 75th Venice International Film Festival yang diselenggarakan sejak tanggal 29 Agustus hingga tanggal 08 September 2018. Film pendek terbaru Miles Films yang berjudul Kado, hasil karya sutradara asal Makassar, Aditya Ahmad dan produser Mira Lesmana & Riri Riza, baru saja memenangkan penghargaan Orizzonti untuk kategori Film Pendek Terbaik pada ajang festival film bergengsi ini.
Film Kado (The Gift) ini berhasil menjadi yang terbaik di antara film-film lainnya pada kategori Short Film Competition yang juga diikuti oleh sineas dari Iran, Belanda, Italia, Filipina, Yunani, Argentina, Switzerland, Kazakhstan, China, dan Serbia.
Film yang diproduseri Mira Lesmana dan Riri Riza ini berdurasi 15 menit, bercerita tentang Isfi, yang ingin merayakan hari ulang tahun Nita. Untuk menyiapkan kado istimewa di kamar Nita, Isfi harus mengenakan rok panjang dan hijab.
Aditya Ahmad (29) sudah beberapa kali memenangi penghargaan internasional. Sepatu Baru (2014) membawanya meraih Special Mention kategori Generation Kplus di Festival Film Internasional Berlin 2014 dan Sutradara Film Pendek Asia Tenggara Terbaik di Festival Film Internasional Singapura 2014.
Selain "The Gift", film Indonesia lainnya yang ikut dalam festival ini adalah Kucumbu Tubuh Indahku (Memories of My Body) hasil garapan Garin Nugroho. Namun film garapan Phuttiphong Aroonpheng dari Thailand yang berjudul Kraben Rahu yang berhasil memenangkan Orizzonti Prizes sebagai best feature film pada kompetisi ini. Orrizonti ditujukan untuk film-film internasional yang merepresentasikan tren estetika dan ekspresif teranyar dalam dunia perfilman.
Hasil ini tentu menjadi sebuah kebanggaan bagi perfilman Indonesia yang semakin bergerak ke arah yang lebih baik, membentuk ekosistem perfilman yang semakin berkualitas.
Sutradara film asal Meksiko, Guillermo del Toro terpilih sebagai Presiden Juri. "First Man" yang disutradarai oleh Damien Chazelle dipilih untuk membuka festival. Guillermo del Toro terpilih sebagai Presiden Juri untuk bagian kompetisi utama, dengan Michele Riondino sebagai host festival ini.
Poster festival untuk tahun ini dibuat oleh seniman Italia Lorenzo Mattotti, yang merancangnya dengan cara "yang menarik mata, yang menarik pikiran, tetapi tanpa mengungkapkan terlalu banyak."
Roma meraih The Golden Lion
The Golden Lion dianugerahkan kepada film asal Meksiko berjudul "Roma", disutradarai oleh Alfonso Cuarón. Sebelumnya pada tahun 2013, film Gravity garapan Cuarón juga berhasil membawa pulang Singa Emas ini, penghargaan tertinggi dalam festival tahunan yang bergengsi ini. Tidak sebuah kebetulan, kali ini Cuarón menerima penghargaan ini dari tangan del Toro, sahabatnya. Bersama Alejandro G. Iñárritu sang produser film peraih Oscar, "Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance)", ketiga sineas berdarah Latin ini sering dikenal sebagai Three Amigos (tiga sekawan).
Tahun lalu del Toro memboyong Golden Lion untuk film The Shape of Water, kemudian memenangi Film Terbaik Oscar 2018. Pada 2014, Inarritu menayangkan Birdman secara perdana di Venesia, yang juga menjadi film nomor satu Oscar. Apakah ini pertanda Roma juga bakal bernasib sama?
Roma adalah kisah humanisme yang terinspirasi dari masa kecil Cuaron. Berlatar Meksiko pada 1970-an, film berformat hitam putih ini mengisahkan Cleo (Yalitza Aparicio), asisten rumah tangga yang bekerja untuk sebuah keluarga kelas menengah di wilayah Roma, kota Meksiko.
The Favourite Membawa Pulang Dua Penghargaan
Di ajang ini pula, "The Favourite" membuktikan bahwa film ini tidak bisa dianggap remeh dengan mendapatkan dua penghargaan. Yang pertama adalah Grand Jury Prize-film pilihan para juri. Kedua, Olivia Colman memenangi Piala Volpi, penghargaan untuk aktris terbaik dalam Festival Film Venesia.
Dalam film besutan sutradara Yorgos Lanthimos ini, Colman menjadi Ratu Anne, perempuan rapuh yang baru saja meraih tahta Kerajaan Inggris abad ke-18. Temannya, Lady Sarah (Rachel Weisz) dan seorang pelayan baru bernama Abigail (Stone) jadi sibuk mencari muka. Keadaan diperparah dengan adanya perang melawan Prancis.
Sarah Caroline Olivia Colman lahir di Norwich, Inggris pada 30 Januari 1974. Ia pernah memenangi piala Golden Globe sebagai Aktris Pendukung Terbaik lewat serial The Night Manager (2016). Film komersial yang pernah ia bintangi antara lain Hot Fuzz (2007), The Iron Lady (2011), dan Murder on the Orient Express (2017).
Aktor Terbaik di Ajang 75th Venice International Film Festival
Jika Olivia Colman jadi aktris terbaik, maka aktor nomor satu dalam Festival Film Venesia ke-75 adalah Willem Dafoe atas perannya dalam film At Eternity’s Gate.
Dalam film garapan sutradara Julien Schnabel ini, Dafoe memerankan Vincent van Gogh. Biografi seniman asal Belanda ini mengangkat betapa van Gogh mampu menciptakan karya seni yang luar biasa, meskipun orangnya bersifat skeptis, suka mengejek, dan sakit-sakitan.
Seumur hidupnya, Dafoe sudah tiga kali jadi nomine Aktor Pendukung Terbaik Oscar lewat Platoon (1987), Shadow of the Vampire (2000), dan The Florida Project (2017). Mungkin, lewat At Eternity’s Gate ia bakal berkesempatan jadi Aktor Terbaik.
Berikut ini adalah daftar lengkap awards yang berhasil diraih pada ajang 75th Venice International Film Festival ini:
Official selection
The following official awards were presented at the 75th edition:
In Competition
- Golden Lion: Roma by Alfonso Cuarón
- Grand Jury Prize: The Favourite by Yorgos Lanthimos
- Silver Lion: The Sisters Brothers by Jacques Audiard
- Volpi Cup for Best Actress: Olivia Colman for The Favourite
- Volpi Cup for Best Actor: Willem Dafoe for At Eternity's Gate
- Best Screenplay Award: The Ballad of Buster Scruggs by Joel and Ethan Coen
- Special Jury Prize: The Nightingale by Jennifer Kent
- Marcello Mastroianni Award: Baykali Ganambarr for The Nightingale
Horizons (Orizzonti)
- Best Film: Manta Ray by Phuttiphong Aroonpheng
- Best Director: The River by Emir Baigazin
- Special Jury Prize: The Announcement by Mahmut Fazil Coşkun
- Best Actress: Natalia Kudryashova for The Man Who Surprised Everyone
- Best Actor: Kais Nashef for Tel Aviv On Fire
- Best Screenplay: Jinpa by Pema Tseden
- Horizons Prize for Best Short: A Gift by Aditya Ahmad
Lion of the Future
Luigi De Laurentiis Award for a Debut Film: The Day I Lost My Shadow by Soudade Kaadan
Venezia Classici Awards
- Best Documentary on Cinema: The Great Buster: A Celebration by Peter Bogdanovich
- Best Restored Film: The Night of the Shooting Stars by Paolo Taviani and Vittorio Taviani
Special Awards
- Golden Lion For Lifetime Achievement: David Cronenberg and Vanessa Redgrave
Autonomous sections
The following collateral awards were conferred to films of the autonomous sections:
Venice International Critics' Week
- Sun Film Group Audience Award: Still Recording by Saeed Al Batal and Ghiath Ayoub
- Verona Film Club Award: Blonde Animals by Maxime Matray and Alexia Walther
- Mario Serandrei – Hotel Saturnia Award for the Best Technical Contribution: Still Recording by Saeed Al Batal and Ghiath Ayoub
Venice Days
- SIAE Award: Mario Martone for his artistic career and for his last picture, Capri-Revolution[15]
- GdA Director's Award: Real Love by Claire Burger[16]
- BNL People's Choice Award: Ricordi? by Valerio Mieli[17]
- Europa Cinemas Label Award: Joy by Sudabeh Mortezai[18]
- Hearst Film Award: Joy by Sudabeh Mortezai[19]
Other collateral awards
The following collateral awards were conferred to films of the official selection:
- Arca CinemaGiovani Award
- Best Italian Film: Capri-Revolution by Mario Martone
- Venezia 75 Best Film: Never Look Away by Florian Henckel von Donnersmarck
- Brian Award: On My Skin by Alessio Cremonini (Horizons)
- Enrico Fulchignoni – CICT-UNESCO Award: El Pepe: Una Vida Suprema by Emir Kusturica (Out of competition)
- FEDIC (Federazione Italiana dei Cineclub) Award: On My Skin by Alessio Cremonini
- Special mention: Ricordi? by Valerio Mieli (Venice Days)
- Mention FEDIC Il Giornale del Cibo: I villani by Daniele De Michele (Venice Days)
- FIPRESCI Awards:
- Best Film (main competition): Sunset by László Nemes
- Best Film (other sections): Still Recording by Saeed Al Batal and Ghiath Ayoub (International Critics' Week)
- Gillo Pontecorvo Award (Best co-production for a debut film): The Road Not Taken by Tang Gaopeng
- Green Drop Award: At Eternity's Gate by Julian Schnabel
- Lanterna Magica Award (CGS): Amanda by Mikhael Hers (Horizons)
- Leoncino d'Oro Agiscuola per il Cinema Award: Never Look Away by Florian Henckel von Donnersmarck
- Cinema for UNICEF Award: What You Gonna Do When the World's on Fire? by Roberto Minervini
- Queer Lion: Josè by Li Cheng (Venice Days)
- SIGNIS Award: Roma by Alfonso Cuarón
- Special mention: 22 July by Paul Greengrass
- C. Smithers Foundation Award – CICT-UNESCO: A Star Is Born by Bradley Cooper
- Special mention: The Mountain by Rick Alverson
- Robert Bresson Award: Liliana Cavani
- Franca Sozzani Award: Salma Hayek
- Campari Passion for the Cinema Award: Bob Murawski for The Other Side of the Wind
- Pietro Bianchi Award: Carlo Verdone
- Fondazione Mimmo Rotella Award: Julian Schnabel and Willem Dafoe for At Eternity's Gate [MG]
Penganugerahan Penghargaan untuk Pemenang Sayembara Mustika Pustaka
Medan, Film Medan - Yayasan Sinema
Manuproject Productions Indonesia menganugerahkan penghargaan kepada pelajar
SMA Methodist 3 Medan, setelah Vita
Harvi memenangkan Sayembara Cipta Cerpen, peraih anugerah Mustika
Pustaka tahun 2018. Kegiatan pemberian hadiah dilaksanakan di Sekolah SMA
Methodist 3 Jalan Perintis Kemerdekaan No.37, Perintis, Medan Timur,Kota Medan,
Sumatera Utara 20234.
Selain mendapatkan piala dan sertifikat, Vita Harvi pemenang
sayambara Mustika Pustaka ini juga mendapatkan uang pembinaan sebesar satu juta
rupiah dari Yayasan Sinema Manuproject Production Indonesia setelah memenangkan
Sayembara Cipta Cerpen Mustika Pustaka 2018 dengan tema Kami Juga Indonesia. Setelah tim yayasan menilai hasil karyanya berjudul "Piala Yang Hancur" dengan
mengungguli 80 karya cerpen yang masuk. Cerita pendek ini juga
berkesempatan diangkat menjadi film pendek produksi Manuprojectpro Indonesia
berikutnya. Pemenang juga akan mendapatkan kesempatan ikut dalam
proses produksi film ini nantinya. Serta karyanya dimuat dalam buku
Antologi Cerita Pendek Mustika Pustaka 2018: Kami Juga Indonesia.
Tati Wijaya selaku kepala sekolah SMA
Methodist 3 Medan mengutarakan kebanggaan dan bersyukur serta menghaturkan
apresiasi kepada Mustika Pustaka yang sudah membimbing dan memberi kesempatan kepada
generasi muda terutama kepada siswa – siswi SMA untuk bisa mengikuti Sayembara
Lomba Cipta Cerpen ini. Beliau merasa ini sangat baik untuk membangkitkan literasi
generasi muda dihari mendatang dimana sekarang ini sudah banyak anak – anak muda
yang kurang berminat dalam karya tulis.
Beliau mengatakan karya tulis ini sangat baik dimana bisa
membangkitkan pengetahuan dan wawasan anak – anak dan membangkitkan generasi
penerus bangsa, kader – kader bangsa Indonesia yang sangat diperlukan negara kita
ini untuk bisa bersaing di kanca internasional. Maka dari itu anak – anak muda
ini perlu sekali didorong dan diberi semangat untuk bisa mau dan berminat di dalam karya tulis. Beliau juga mengucapkan banyak terima kasih sudah memberi kesempatan kepada anak didik nya khususnya kepada Vita Harvi yang menjadi
juara dengan judul cerpen "piala yang hancur".
Dr. Immanuel Prasetya Gintings selaku ketua umum Yayasan Sinema
Manuproject Production Indonesia juga memberikan apresiasi dan sangat bangga
kepada Vita Harvi dan berpesan agar terus menulis dan tetap menghasilkan karya
karya yang lebih hebat lagi.
“Dengan Sayembara Mustika Pustaka ini, kami berharap di kota Medan akan muncul lebih banyak pelajar - pelajar yang bukan cuma mahir berdiskusi tetapi juga piawai menuliskan ide
atau gagasan-gagasannya dalam bentuk tulisan”, ujarnya.
Gelar Karya Film Pelajar
Jakarta,
Film Medan - Dalam rangka Festival Film
Indonesia 2018, Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan RI (Pusbang Film Kemendikbud) kembali mengadakan kegiatan “Gelar
Karya Film Pelajar 2018” dengan tema “Penguatan Pendidikan Karakter Melalui
Film”.
Pada
tahun ini terdapat 2(dua) kategori film yang dilombakan yaitu Film dokumenter
dan Film pendek. Film Dokumenter adalah film yang berdasarkan data-data faktual
yang ditemui berdasrkan literatur (media cetak/online/buku) maupun hasil riset
langsung. Subjek/objek ide cerita film yang terkait dengan tema Penguatan
Pendidikan Karakter. Sedangkan Film Pendek adalam film yang dibuat berdasarkan
cerita fiksi atau kisah-kisah nyata dengan tema penguatan pendidikan karakter.
Kriteria Teknis. Film-film yang
berhak mengikuti Gelar Karya Film Pelajar 2018 adalah semua karya film yang
diproduksi sejak Januari 2017 dengan catatan memiliki tema yang berkaitan dengan
tema lomba yang telah ditentukan. Film berdurasi minimal 7 (tujuh) menit dan maksimal
15 (limabelas) menit sudah termasuk opening dan credit title. Lomba ini terbuka
bagi semua warga negara Indonesia, Khususnya pelajar setingkat SMP/MTs,
SMA/SMK/MA.
Tahap Penjurian. Seleksi awal
dilakukan untuk menentukan film-film yang memenuhi administratif, kriteria
teknis dan tema. Tema kali ini adalah “Penguatan pendidikan karakter”. Seleksi
awal dilakukan oleh praktisi dan akademisi film, sejumlah lembaga swadaya
masyarakat, serta komunitas-komunitas rakyat sesuai dengan isu yang menjadi fokus
festival. Film-film terpilih menjadi film nominasi Lomba membuat film Pendek
dan Dokumenter. Penjurian karya-karya nominasi akan dilakukan oleh para
praktisi dan akademisi film dengan menilai:
- keutuhan antara ide dan bentuk film,
- kepekaan tematik aktual yang diangkat,
- potensi film untuk pembelajaran dalam masyarakat.
Tidak ada pungutan biaya
Pendaftaran untuk Lomba membuat film Pendek dan Dokumenter. (YS)
Adapun
beberapa persyaratan diantaranya:
1.
Pelajar
Indonesia setingkat SMP/MTs, SMA/SMK/MA
2.
Peserta
berupa tim yang berperan sebagai produser, sutradara, penulis naskah, penata
suara, penata artistik , editor.
3.
Bagi
finalis lomba 2 (dua) kategori (film pendek dan film dokumenter) akan diundang
ke Jakarta maksimal 3 (tiga) orang dari tim produksi untuk mengikuti malam
anugerah.
4.
a) Film
dokumenter adalah film yang berdasark an data- data faktual yang ditemui
berdasarkan literatur (media cetak/online/buku) maupun hasil riset langsung.
Subjek/objek ide cerita film yang terk ait dengan tema penguatan pendidikan karakter.
b) Film pendek adalah film yang dibuat berdasarkan cerita
fiksi atau kisah nyata dengan tema penguatan pendidik an karakter.
c) Setiap tim hanya boleh mengirimkan 1 (satu) karya
film.
5.
Peserta melampirkan surat pernyataan bermaterai 6000 bahwa film yang dikirimkan
bersifat orisinil dan belum pernah diikutsertakan dalam kompetisi lain.
6.
Apabila
film menggunakan karya musik yang ada hak ciptanya, peserta wajib melampirkan izin tertulis bermaterai 6000 dari pemilik hak tersebut.
7.
Film
pendek dan dokumenter memiliki durasi minimal 7(tujuh) menit dan maksimal 15
(limabelas) menit sudah termasuk opening dan credit title.
8.
Bahasa
yang digunakan dalam film adalah Bahasa Indonesia dan/atau bahasa daerah
dengan mencantumkan terjemahannya (subtitle).
9.
Peserta dapat mengikutsertakan karya film yang diproduksi sejak Januari 2017
dengan catatan memiliki tema yang berkaitan dengan tema lomba yang telah
ditentukan.
10.
Panitia
berhak mendiskualifikasi dan membatalkan film pada tahap seleksi apabila
ditemukan kecurangan yang dilakukan peserta.
11.
Apabila
dikemudian hari ada gugatan hak cipta, pihak panitia tidak bertanggungjawab
terhadap hal tersebut. Panitia berasumsi bahwa seluruh film yang diikutsertakan merupakan karya orisinil dari peserta.
12.
Karya
film dapat dikirimkan ke email:
13.
Formulir
pendaftaran dan Petunjuk Teknis dapat diunduh di : bitly.com/GKFP2018
14.
Batas
akhir penerimaan karya adalah tanggal 30 September 2018.
15.
Tidak
dipungut biaya dalam keseluruhan prosesnya. Karya film terbaik akan ditayangkan dan diumumkan pada acara Malam Anugerah Festival Film Indonesia (waktu
penyelenggaraan di tentuk an kemudian hari).
16.
Untuk
informasi lebih lanjut, peser ta dapat menghubungi panitia lomba Pusat
Pengembangan Per filman melalui narahubung :
Espita (08129057734)
Swari (082113110456)
Mahesa (081332323430)
Hasil seleksi akan di umumkan melalui website:
Pusbangfilm.kemdikbud.go.id
Review Trailer Wiro Sableng (2018)
Medan, Film Medan - Setelah ditunggu-tunggu akhirnya trailer film Wiro Sableng hadir untuk pertama sekali resmi melalui channel Youtube Lifelike Picture hari ini Sabtu (28/7). Trailer berdurasi dua menit tujuh detik ini menampilkan beberapa hal menarik yang kira-kira akan terjadi di filmnya yang akan rilis di layar bioskop nusantara 30 Agustus 2018 ini.
Trailer dimulai dengan potongan aksi dari Wiro (Vino G. Bastian) yang sedang memukul keras seseorang di depan sebuah rumah, kemunculan Mahesa Birawa (Yayan Ruhian) yang dilanjutkan dengan tawa Dewa Tuak (Restu Triandy alias Andi /RIF) yang berkata, "Muridnya sableng, gurunya gendeng!" di sisi Anggini (Sherina Munaf), kalimat yang khas untuk pembuka serial Wiro Sableng di era tahun 1997 di stasiun televisi RCTI. Musik genderang mengiringi potongan aksi ini dengan tulisan: Wiro Sableng, Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, in cinemas, 30 August 2018. Penggabungan bahasa Indonesia pada judul dan informasi penayangan dalam bahasa Inggris. Mungkin karena film ini agak-agak Hollywood begitu maksudnya.
Beberapa orang berkuda muncul dalam bentuk siluet di depan bulan super besar berwarna merah, ngalah-ngalahin gerhana bulan paling besar di dunia! Plus seekor burung yang dijadikan transisi ke adegan selanjutnya. Sepertinya burungnya sejenis kampret karena tajam sayapnya.
Sebuah adegan penyerbuan ke sebuah desa oleh beberapa orang berkuda dan obor di tangannya kemudian disusul oleh sebuah sosok seram dengan celurit di tangan muncul di balik pintu. Ada bisikan nama yang kurang jelas terdengar tapi kira-kira bunyinya "Jatiwalu, Mahesa!", dilanjutkan dengan kalimat "merampas apapun yang kalian mau, tapi jangan sentuh yang jadi bagianku." Beberapa adegan keren dengan api, plus pedang sebesar batang kelapa tampak di sini, biar penonton merasa sadis.
Selanjutnya sepertinya adalah adegan seorang anak kecil dan ibunya Suci Bantari (Happy Salma) dan seorang lelaki yang bernama Raden Ranaweleng (Marcell Siahaan) disiksa oleh sosok Mahesa Birawa. Mereka ini bapak dan ibunya Wiro kecil. Dan sesuai adegannya, mereka adalah orang penting di desa itu karena disisakan terakhir setelah semua rumah habis dibakar, sebelum nantinya Wiro diselamatkan dan dibesarkan Sinto Gendeng (Ruth Marini). Kami merasa Happy Salma sepertinya pasti tidak "happy" mengingat di film lainnya baru-baru ini, juga ada adegan rumah terbakar dan Happy Salma juga mati di film ini. Sebut saja Buffalo Boys (spoiler alert!) Sebuah kebetulan yang sangat kebetulan sekali ya?
Ok, lalu yang bikin seru adalah munculnya bumper logo 20th Century Fox yang maha keren (seperti biasanya) dan bumper logo Lifelike Pictures. Kita disuruh menyaksikan si Mahesa Birawa muncul dari balik pintu besar plus diikuti adegan warga lari kocar-kacir di sebuah pasar. Ok, fix! Sekarang kita tahu bahwa Mahesa Birawa itu menakutkan!
Lanjut lagi beberapa wajah seram berupa topeng Jawa yang melotot mengepung sekelompok pengawal kerajaan berbaju biru tua mengelilingi Raja Kamandaka (Dwi Sasono), "Lindungi raja!", Seru para penjaga. dari adegan selanjutnya kita bisa menebak raja dan pasukannya kalah, karena muncul sosok Werku Alit (Lukman Sardi) yang berkata "Kerajaan telah diambil alih" kepada Permaisuri (Marcella Zalianty). Sepertinya dari kerajaan yang sama, karena bajunya sama-sama warnanya biru tua.
"Yang akan kau hadapi itu bukan lawan sembarangan" ucap Dewa Tuak kepada Wiro yang berbaju putih. Di belakangnya ada Anggini. Sepertinya di sini mereka udah tidak eskete-an lagi. Btw, untuk yang belum tahu, pemeran Anggini di serial aslinya dulu juga penyanyi! Namanya Helvy Maryand. Lagunya yang populer itu, Mas Joko. Yang nyanyinya, "Aduh pipiku dicium Mas Joko" itu lho.. yang "Tak u-uuuuk...." Lawas... Hihihihihihi....
Adegan aksi Wiro Sableng yang di depan tadi diulang, kali ini disambar dengan jeritan, "Eeeeee...." yang merupakan awal lagu paling dicinta sejuta umat penggemar silat karya Bastian Tito, bapaknya Vino Bastian. Musik ini kemudian memulai potongan aksi yang lebih cepat temponya. Tapi sungguh, musik yang berkolaborasi dengan musik gamelan Jawa itu benar-benar bikin merinding! Rindu dengarnya!
Aksi Wiro bertarung di sebuah kedai dengan aksi sablengnya, plus adegan-adegan bersama Sinto Gendeng, menampilkan dua gila ini duduk bersama, Wiro terbang mengejar kapak Naga Geni (Bajunya masih abu-abu, sepertinya bakalan ada adegan seru perubahan baju ini nanti jadi putih), dan adegan Wiro yang "kesetrum" saat mencoba mengangkat kapak yang sama yang menancap di atas sebuah batu di tengah hutan.
"Kabari seula, agar segera bersiap!" adalah kalimat selanjutnya mengiringi aksi Wiro yang berbalik tubuh dan menebar senyum, dan bersenjatakan parang panjang. Tak tahu itu ucapan siapa.
Yang jelas selanjutnya ada kalimat, "Seorang pengkhianat berbicara tentang kesetiaan?" yang diucapkan Mahesa di tengah pasukannya dan api unggun yang membara. Sedang marah tampaknya.
Lalu kehadiran Anggini yang memberikan tendangan tinggi ke beberapa pasukan bertopeng, dan sebuah perkenalan, "Salam hormat tuan putri, aku Anggini, yang dilanjutkan dengan perkenalan seorang sosok gemuk (Fariz Alfarizi), "Aku Santiko, Bujang Gila Tapak Sakti" plus pertarungan keduanya bersama Wiro Sableng di atas sebuah pohon dengan efek CGI yang menurut kami norak. (Sekedar bocoran, kabarnya efek ini melibatkan 70 pembuat CGI segala. Apapun namanya, CGI sucks guys! Gak keren seperti practical effect yang dulu pernah jaya dengan tepung-tepung berserakan)
Dan tiba-tiba Bidadari Angin Timur (Marsha Timothy) berbaju biru cerah yang sempat kami kira sebagai princess Elsa Frozen terbang mendarat. Adegan pertarungan rame-rame menyusul, plus pertarungan antara Mahesa Birawa dan Wiro Sableng di sebuah sungai yang mendampingi sebuah dialog, "Aku Wiro Sableng, guruku Sinto Gendeng mengutusku untuk membawamu kembali ke Gunung Gede".
Sosok Raramurni yang diperankan Aghniny Haque, atlit taekwondo cantik muncul dan mencabut pedangnya hadir membuat rasa penasaran, ini siapa lagi? Cantik kaliiiii!
Dan yang ditunggu-tunggu, kehadiran Ken-Ken sang pemeran Wiro Sableng yang asli tiba-tiba muncul bertarung bersama Wiro Sableng di kedai makan (kami tahu karena pisang sesisir tergantung di dindingnya, hehehehe...). Ini adegan yang paling bikin hati kami seakan melonjak keluar! Setelah musik pembuka, kehadiran Ken-Ken yang kami cintai juga hadir dengan gaya khasnya!
Seperti tidak membiarkan kami kendor semangat nontonya, kemudian hadir adegan pertarungan Bidadari Angin Timur, close up wajah-wajah seperti Werku Alit, Kalasrenggi (T. Rifnu Wikana), Kakek Segala Tahu (Yayu A.W. Unru) dan pertarungan dengan adegan-adegan silat keren. Kami berharap semua jurus andalan Wiro Sableng seperti Kunyuk Melempar Buah, Pukulan Sinar Matahari, dan Pukulan Angin Puyuh harusnya nanti ada di sini.
Lalu adegan mengulangi kalimat, "Muridnya Sableng, Gurunya Gendeng" si Dewa Tuak muncul lagi. Dan kami baru menyadari senyum Sherina Munaf itu maniiiis sekali. Duh. Pake ungu cerah pulak lagi ntu! Oh oya, celetukan (mungkin karena latahnya), "Eh!" dari Vino terdengar khas. Satu frame yang mengingatkan kami dengan Kasino di Warkop Reborn yang.... Ah sudahlaaaaah....
Lalu adegan pertarungan yang melibatkan Sinto Gendeng yang membaca mantra (Kami udah ulang sampe lebih sepuluh kali, baru kami dengar secara jelas, "Dharma.. jadilah satu..") di atas sebuah bukit dan lagi-lagi adegan CGI norak berupa roh hijau keluar dari dalam raga mirip Vexana di Mobile Legends (Ya, kami main itu juga, Moba kok analoooog...), plus diakhiri dengan adegan pertarungan antara Wiro Sableng dan Mahesa Wirawa di sebuah ruangan. Eh, iya adegan yang terakhir ini persis seperti gerakan di film The Raid. Kami serasa de ja vu menyaksikannya. Kapak dilemparkan Wiro dan nempel di tulisan Wiro Sableng, Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212.
Sebuah potongan disisakan saat Bidadari Angin Timur berkata, "Sudah lama kami menunggu kamu" kepada Wiro yang cengengesan dan menjawab singkat, "Ah, masaaaaak!"
Ok. Selesai!
Kami tidak lupa menyebutkan harusnya ada beberapa sosok lain seperti Bajak Laut Bagaspati (Cecep Arif Rahman), Kalingundil (Dian Sidik), Ketut Ireng (Habibie), Pangeran (Yusuf Mahardika), Bergola Wungu (Asta), Pitala Kuning (Mardi), dan Seta Inging (Cupink Topan). Hanya saja di trailer singkat ini, mata kami tidak secepat itu untuk bisa menangkap kehadiran mereka semua. Sekilas sih kayaknya ada!
Kami sangat antusias menulis review ini. Bagaimana kalau kalian tonton langsung di bawah ini dan berikan komentar kalian di halaman ini? (MG)










