Update Film • Komunitas • Info Nonton • Medan
Home About Contact
Breaking
Review Trailer Wiro Sableng (2018)

Review Trailer Wiro Sableng (2018)


Medan, Film Medan - Setelah ditunggu-tunggu akhirnya trailer film Wiro Sableng hadir untuk pertama sekali resmi melalui channel Youtube Lifelike Picture hari ini Sabtu (28/7). Trailer berdurasi dua menit tujuh detik ini menampilkan beberapa hal menarik yang kira-kira akan terjadi di filmnya yang akan rilis di layar bioskop nusantara 30 Agustus 2018 ini.

Trailer dimulai dengan potongan aksi dari Wiro (Vino G. Bastian) yang sedang memukul keras seseorang di depan sebuah rumah, kemunculan Mahesa Birawa (Yayan Ruhian) yang dilanjutkan dengan tawa Dewa Tuak (Restu Triandy alias Andi /RIF) yang berkata, "Muridnya sableng, gurunya gendeng!" di sisi Anggini (Sherina Munaf), kalimat yang khas untuk pembuka serial Wiro Sableng di era tahun 1997 di stasiun televisi RCTI. Musik genderang mengiringi potongan aksi ini dengan tulisan: Wiro Sableng, Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, in cinemas, 30 August 2018. Penggabungan bahasa Indonesia pada judul dan informasi penayangan dalam bahasa Inggris. Mungkin karena film ini agak-agak Hollywood begitu maksudnya.

Beberapa orang berkuda muncul dalam bentuk siluet di depan bulan super besar berwarna merah, ngalah-ngalahin gerhana bulan paling besar di dunia! Plus seekor burung yang dijadikan transisi ke adegan selanjutnya. Sepertinya burungnya sejenis kampret karena tajam sayapnya.

Sebuah adegan penyerbuan ke sebuah desa oleh beberapa orang berkuda dan obor di tangannya kemudian disusul oleh sebuah sosok seram dengan celurit di tangan muncul di balik pintu. Ada bisikan nama yang kurang jelas terdengar tapi kira-kira bunyinya "Jatiwalu, Mahesa!", dilanjutkan dengan kalimat "merampas apapun yang kalian mau, tapi jangan sentuh yang jadi bagianku." Beberapa adegan keren dengan api, plus pedang sebesar batang kelapa tampak di sini, biar penonton merasa sadis.

Selanjutnya sepertinya adalah adegan seorang anak kecil dan ibunya Suci Bantari (Happy Salma)  dan seorang lelaki yang bernama Raden Ranaweleng (Marcell Siahaan) disiksa oleh sosok Mahesa Birawa. Mereka ini bapak dan ibunya Wiro kecil. Dan sesuai adegannya, mereka adalah orang penting di desa itu karena disisakan terakhir setelah semua rumah habis dibakar, sebelum nantinya Wiro diselamatkan dan dibesarkan Sinto Gendeng (Ruth Marini). Kami merasa Happy Salma sepertinya pasti tidak "happy" mengingat di film lainnya baru-baru ini, juga ada adegan rumah terbakar dan Happy Salma juga mati di film ini. Sebut saja Buffalo Boys (spoiler alert!Sebuah kebetulan yang sangat kebetulan sekali ya?

Ok, lalu yang bikin seru adalah munculnya bumper logo 20th Century Fox yang maha keren (seperti biasanya) dan bumper logo Lifelike Pictures. Kita disuruh menyaksikan si Mahesa Birawa muncul dari balik pintu besar plus diikuti adegan warga lari kocar-kacir di sebuah pasar. Ok, fix! Sekarang kita tahu bahwa Mahesa Birawa itu menakutkan!

Lanjut lagi beberapa wajah seram berupa topeng Jawa yang melotot mengepung sekelompok pengawal kerajaan berbaju biru tua mengelilingi Raja Kamandaka (Dwi Sasono), "Lindungi raja!", Seru para penjaga. dari adegan selanjutnya kita bisa menebak raja dan pasukannya kalah, karena muncul sosok Werku Alit (Lukman Sardi) yang berkata "Kerajaan telah diambil alih" kepada Permaisuri (Marcella Zalianty). Sepertinya dari kerajaan yang sama, karena bajunya sama-sama warnanya biru tua.

"Yang akan kau hadapi itu bukan lawan sembarangan" ucap Dewa Tuak kepada Wiro yang berbaju putih. Di belakangnya ada Anggini. Sepertinya di sini mereka udah tidak eskete-an lagi. Btw, untuk yang belum tahu, pemeran Anggini di serial aslinya dulu juga penyanyi! Namanya Helvy Maryand. Lagunya yang populer itu, Mas Joko. Yang nyanyinya, "Aduh pipiku dicium Mas Joko" itu lho.. yang "Tak u-uuuuk...." Lawas... Hihihihihihi....

Adegan aksi Wiro Sableng yang di depan tadi diulang, kali ini disambar dengan jeritan, "Eeeeee...." yang merupakan awal lagu paling dicinta sejuta umat penggemar silat karya Bastian Tito, bapaknya Vino Bastian. Musik ini kemudian memulai potongan aksi yang lebih cepat temponya. Tapi sungguh, musik yang berkolaborasi dengan musik gamelan Jawa itu benar-benar bikin merinding! Rindu dengarnya!

Aksi Wiro bertarung di sebuah kedai dengan aksi sablengnya, plus adegan-adegan bersama Sinto Gendeng, menampilkan dua gila ini duduk bersama, Wiro terbang mengejar kapak Naga Geni (Bajunya masih abu-abu, sepertinya bakalan ada adegan seru perubahan baju ini nanti jadi putih), dan adegan Wiro yang "kesetrum" saat mencoba mengangkat kapak yang sama yang menancap di atas sebuah batu di tengah hutan.

"Kabari seula, agar segera bersiap!" adalah kalimat selanjutnya mengiringi aksi Wiro yang berbalik tubuh dan menebar senyum, dan bersenjatakan parang panjang. Tak tahu itu ucapan siapa. 

Yang jelas selanjutnya ada kalimat, "Seorang pengkhianat berbicara tentang kesetiaan?" yang diucapkan Mahesa di tengah pasukannya dan api unggun yang membara. Sedang marah tampaknya.


Lalu kehadiran Anggini yang memberikan tendangan tinggi ke beberapa pasukan bertopeng, dan sebuah perkenalan, "Salam hormat tuan putri, aku Anggini, yang dilanjutkan dengan perkenalan seorang sosok gemuk (Fariz Alfarizi), "Aku Santiko, Bujang Gila Tapak Sakti" plus pertarungan keduanya bersama Wiro Sableng di atas sebuah pohon dengan efek CGI yang menurut kami norak. (Sekedar bocoran, kabarnya efek ini melibatkan 70 pembuat CGI segala. Apapun namanya, CGI sucks guys! Gak keren seperti practical effect yang dulu pernah jaya dengan tepung-tepung berserakan)

Dan tiba-tiba Bidadari Angin Timur (Marsha Timothy) berbaju biru cerah yang sempat kami kira sebagai princess Elsa Frozen terbang mendarat. Adegan pertarungan rame-rame menyusul, plus pertarungan antara Mahesa Birawa dan Wiro Sableng di sebuah sungai yang mendampingi sebuah dialog, "Aku Wiro Sableng, guruku Sinto Gendeng mengutusku untuk membawamu kembali ke Gunung Gede".

Sosok Raramurni yang diperankan Aghniny Haque, atlit taekwondo cantik muncul dan mencabut pedangnya hadir membuat rasa penasaran, ini siapa lagi? Cantik kaliiiii!

Dan yang ditunggu-tunggu, kehadiran Ken-Ken sang pemeran Wiro Sableng yang asli tiba-tiba muncul bertarung bersama Wiro Sableng di kedai makan (kami tahu karena pisang sesisir tergantung di dindingnya, hehehehe...). Ini adegan yang paling bikin hati kami seakan melonjak keluar! Setelah musik pembuka, kehadiran Ken-Ken yang kami cintai juga hadir dengan gaya khasnya!

Seperti tidak membiarkan kami kendor semangat nontonya, kemudian hadir adegan pertarungan Bidadari Angin Timur, close up wajah-wajah seperti Werku Alit, Kalasrenggi (T. Rifnu Wikana), Kakek Segala Tahu (Yayu A.W. Unru) dan pertarungan dengan adegan-adegan silat keren. Kami berharap semua jurus andalan Wiro Sableng seperti Kunyuk Melempar  Buah, Pukulan Sinar Matahari, dan Pukulan Angin Puyuh harusnya nanti ada di sini.

Lalu adegan mengulangi kalimat, "Muridnya Sableng, Gurunya Gendeng" si Dewa Tuak muncul lagi. Dan kami baru menyadari senyum Sherina Munaf itu maniiiis sekali. Duh. Pake ungu cerah pulak lagi ntu! Oh oya, celetukan (mungkin karena latahnya), "Eh!" dari Vino terdengar khas. Satu frame yang mengingatkan kami dengan Kasino di Warkop Reborn yang.... Ah sudahlaaaaah....

Lalu adegan pertarungan yang melibatkan Sinto Gendeng yang membaca mantra (Kami udah ulang sampe lebih sepuluh kali, baru kami dengar secara jelas, "Dharma.. jadilah satu..") di atas sebuah bukit  dan lagi-lagi adegan CGI norak berupa roh hijau keluar dari dalam raga mirip Vexana di Mobile Legends (Ya, kami main itu juga, Moba kok analoooog...), plus diakhiri dengan adegan pertarungan antara Wiro Sableng dan Mahesa Wirawa di sebuah ruangan. Eh, iya adegan yang terakhir ini persis seperti gerakan di film The Raid. Kami serasa de ja vu menyaksikannya. Kapak dilemparkan Wiro dan nempel di tulisan Wiro Sableng, Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212.

Sebuah potongan disisakan saat Bidadari Angin Timur berkata, "Sudah lama kami menunggu kamu" kepada Wiro yang cengengesan dan menjawab singkat, "Ah, masaaaaak!" 

Ok. Selesai! 

Kami tidak lupa menyebutkan harusnya ada beberapa sosok lain seperti Bajak Laut Bagaspati (Cecep Arif Rahman), Kalingundil (Dian Sidik), Ketut Ireng (Habibie), Pangeran (Yusuf Mahardika), Bergola Wungu (Asta), Pitala Kuning (Mardi), dan Seta Inging (Cupink Topan). Hanya saja di trailer singkat ini, mata kami tidak secepat itu untuk bisa menangkap kehadiran mereka semua. Sekilas sih kayaknya ada!

Kami sangat antusias menulis review ini. Bagaimana kalau kalian tonton langsung di bawah ini dan berikan komentar kalian di halaman ini? (MG)




Baca selengkapnya
Selamat Jalan Tino Saroenggalo

Selamat Jalan Tino Saroenggalo


Jakarta, Film Medan - Sebuah kabar duka tiba di meja redaksi Filmmedan.com pagi ini, hari Jumat (27/7) pukul 09.10 telah berpulang filmmaker, produser, serta aktor yang sangat dicintai seluruh sineas film di Indonesia, Tino Saroenggalo. Setelah berjuang melawan penyakit yang dideritanya yaitu kanker kandung kemih, Tino akhirnya menghadap Sang Khalik pagi tadi. Saat ini almarhum disemayamkan di rumah duka: Komplek Bintaro Paradis No. 6, Jl. Bintaro Puspita Raya, Pesanggrahan.

Tino Saroengallo dan Yesika Sidabutar (Foto: Yesika Sidabutar)

Sosok Tino merupakan sosok yang sangat berkesan bagi beberapa sineas kota Medan, salah satunya Yesika Sidabutar, penulis skenario dari Yayasan Sinema Manuprojectpro Indonesia yang sempat bertemu dan mendengarkan wejangan beliau saat mengikuti workshop Management Produksi yang diselenggarakan Pusbang Film Kemdikbud RI tahun lalu di Depok.

Menurutnya Oom Tino, begitu biasa Tino dipanggil adalah sosok yang mengagumkan, sangat baik, ramah, dan menebarkan kehangatan bagi sekelilingnya dengan candanya yang khas.

Rasa kehilangan juga datang dari seluruh crew Yayasan Sinema Manuprojectpro Indonesia yang pernah maupun belum sempat bertemu langsung dengan beliau, tetapi mengenal sosok beliau melalui bukunya Dongeng Sebuah Produksi Film yang selama ini menjadi referensi terbaik untuk memperkenalkan fungsi seorang manajer produksi film bagi mereka di kota Medan selama ini.


Sempat Didoakan dan Bercanda Bersama

Bunda Nanda Giri (paling kiri) bersama beberapa tokoh perfilman Indonesia saat acara doa bersama di kediaman Tino Saroengallo (Foto: Nanda Giri)

Sebelumnya melalui linimasa Nanda Giri, sineas yang dikenal dengan panggilan "bunda" pada Selasa (17/7), sempat diadakan acara pengajian bersama beberapa tokoh perfilman Indonesia mendoakan Tino Saroengallo.

Setelah acara pengajian selesai, masih sempat diadakan acara kumpul bersama, foto bareng, bercanda, menangis bersama. Mendengarkan wejangan dari Tino. Walau dalam keadaan lemah, Tino masih semangat dalam berbicara, mengingat satu per satu sosok di sekitarnya.

Tino Saroengallo (tengah) diapit sahabat-sahabat perfilman Indonesia saat acara doa bersama (Foto: Nanda Giri)

"Nanda kamu casting itu kerjaan tidak mudah, harus di kerjakan dengan baik", Tino untuk bunda Nanda pada saat itu. 

Tino sempat juga bercanda saat ia melihat seorang laki-laki duduk di pojokm dengan gaya khasnya, ia menyeletuk, "Kamu siapa botak?" dan seisi ruangan itu semua tertawa, tetap dengan caranya menyapa orang.

Setelah canda dan ngobrol bareng tiba-tiba Tino berkata, "Sekarang mau merokok", dan semua menyahut, "Yukkk yukkk di temanin merokok!" disertai senyum dan tawa mengingat betapa Tino sangat merindukan bau asap rokok. Setelah satu hisapan rokok, Tino pamit minta masuk dan mau istirahat. 

Saat berita ini dinaikkan, linimasa sineas Indonesia dipenuhi dengan ucapan bela sungkawa di hampir semua media sosial.

Beberapa diantaranya: 


Ronny P. Tjandra (Aktor, Produser, dan Importir Film)




Sangat berduka karena telah berpulang seorang sahabat, Tino Saroengallo (10/7/1958 - 27/7/2018). 😒😒


Aktor (13 flm), produser (6), sutradara (4), manager produksi, penulis. Karya kenangannya dokudrama pidato Bung Karno: “Pantja-Sila, Cita-cita & Realita”, bersama Tyo Pakusadewo. 
Sebuah kehilangan besar bagi dunia film Indonesia. πŸ˜”

Semoga segala kebaikannya menjadi doa yang diterima. πŸ™πŸ™πŸ™
Rest In Peace, Brother!!πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’

Dalam kenangan: 

Beliau adalah seorang yang selalu bicara lugas, tanpa tedeng aling-aling, memiliki selera humor tinggi dan pengetahuannya sangat mumpuni. Sungguh seorang master! πŸ™

Barly Juan Fibriady (Sinematografer)


Bang... 
Selamat jalan 
Selamat berjalan di kehidupan yang lain tanpa rasa sakit, marah, benci atau apapun

Bang... 
Terima kasih atas semua ilmu yang kau berikan...

Selamat jalan bang Tino Saroengallo
πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raji'un...
Allahummaghfirlahu Warhamhu Wa'afihi Wa'fu'anhu...

Vivian Idris (Aktris, Produser)



Selamat menyatu dengan keabadian sahabat dan mentorku Tino Saroengallo. Doa dan kenangan mengiringi kepergianmu


Tentang Tino Saroenggalo

Tino Saroengallo (rambut plontos), saat menjadi Asisten Sutradara dalam film The Philosopher (Foto: http://kinescopemagz.com)

Tino Saroengallo, lahir di Jakarta, 10 Juli 1958. Ia adalah aktor, produser film dan penulis. Pada 1986 ia menamatkan pendidikan di Fakultas Sastra Jurusan Asia Timur Program Studi Cina, Universitas Indonesia. Alasan ia memilih kuliah Sastra Cina karena dari kecil suka baca cerita silat Kho Ping Hoo. Di dalam otaknya, populasi penduduk Cina yang terbesar di dunia. Maka bahasa Cina akan menjadi bahasa pergaulan di dunia.

“Saya ambil Sastra Cina karena saya nggak tau hidup mau ngapain. Begitu tamat IPA, tamat, saya bingung. Saya lihat ibu saya jadi dokter umum itu nggak menarik dan jadi dokter itu bukan buat saya. Saya lihat bapak saya jadi pengacara hidupnya juga nggak menarik. Saya sering baca Kho Ping Hoo, saya pikir, oh ya kayaknya Sastra Cina ini seru. Dasarnya saya juga senang main. Jadi saya pikir, oh iya, ini nih.. kenapa nggak sastra cina? Cina kan banyak di dunia. Di otak saya pertama itu. Begitu saya bisa ngomong cina kan saya bisa gaul. Intinya saya ikutin arus saya seperti air aja.”

Menyelesaikan skripsinya setelah mencicipi profesi door to door salesman di sebuah perusahaan selama enam bulan. Kehidupan salesman inilah yang menjadi bekal utamanya ketika mengawali karier di bidang jurnalistik: tidak malu menyapa calon responden seperti halnya menyapa calon pembeli.

“Jadi salesman, door to door karena saya butuh duit. Saya memang belum lepas dari orang tua tapi orang tua saya juga bukan orang kaya. Sebagai contoh, saya tidak pernah di wisuda selama hidup saya. Kenapa? Karena ketika mau di wisuda, duit saya tinggal Rp 25.000,- Pilihannya antara memperbanyak naskah skripsi untuk sidang, kemudian saya dapet ijazah atau saya ikut wisuda, dapet toga. Saya pilih buat skripsi. Simpel aja itu sih. Yang penting saya nggak ada hutang.

Sejak 1987 ia sudah berkecimpung di beragam profesi yang berkaitan dengan media. Mulai dari reporter di tabloid dwi-mingguan “Mutiara”, majalah berita dwi-mingguan “X’tra”, majalah berita bergambar “Jakarta-Jakarta”, serta penulis lepas di berbagai media hingga akhirnya masuk ke dunia audio-visual pada saat stasiun televisi swasta RCTI berdiri tahun 1988 dengan catatan tidak pernah menjadi karyawan stasiun televisi tersebut. Sejak saat itu akrab bekerja dengan pembuatan program televisi sebagai Manajer Produksi maupun sebagai Penulis untuk program maupun drama televisi. Dari program televisi merambah ke produksi film iklan dan film cerita. Meski pernah menjadi Sutradara film iklan selama beberapa tahun di paruh kedua dekade 1990-an namun pada awal tahun 2000-an ia memutuskan untuk lebih menekuni profesi Asisten Sutradara 1 dan Manajer Produksi.

“Kecemplung di dunia industri film dan televisi karena nggak sengaja. Saya masuk RCTI diajak seorang teman. Awalnya pegang buat news dan program feature. Programnya dianggap gagal, terus saya balik lagi nulis dan bikin sinetron.. karena sinetron tantangannya cuma di episode awal, lima episode pertama enak makin kesananya ya gitu-gitu aja, saya bosen. Terus diajak lagi untuk program musik namanya Rocket. Ya, ikut lagi sampe dua tahun, bosen, masuk ke iklan, jadi orang lokasi, terus masuk lagi ke feature film.”

Di dunia film cerita ia lebih banyak berkecimpung di departemen produksi menjadi Manajer Produksi, Manajer Lokasi atau malah Pemain. Film cerita yang pernah ia kerjakan sebagai bagian dari departemen produksi  adalah “Victory” (Mark Peploe, 1995), “Last to Surrender” (David Mitchell, 1999), “Pasir Berbisik” (Nan T. Achnas, 2001), “Ca-bau-kan” (Nia diNata, 2002), “The Fall” (Tarsem Singh, 2006), “Jermal” (Ravi L. Bharwani, Rayya Makarim, Orlow Seunke, 2008), “Eat Pray Love” (Ryan Murphy, 2010), “Sang Penari” (Ifa Ifansyah, 2011) dan “The Philosophers” (John Huddles, 2013).

Sebagai pemain film ia pernah tampil sebagai figuran, cameo ataupun peran pendukung dalam film “Petualangan Sherina” (Riri Riza, 2000), “Arisan” (Nia diNata, 2003), “Pesan Dari Surga” (Sekar Ayu Asmara, 2006), “Dunia Mereka” (Lasya Fauzia, 2006), “Quickie Express” (Dimas Djayadiningrat, 2007), “Tri Mas Getir” (Rako Prijanto, 2008), “MBA” (Winalda, 2008), “Jagad X-Code” (Herwin Novianto, 2009), “Pintu Terlarang” (Joko Anwar, 2009), “Kabayan Jadi Miliuner” (Guntur Soeharjanto, 2010) dan terakhir “Rayya: Cahaya Di Atas Cahaya” (Viva Westi, 2012). Ia selalu menyebut diri sebagai spesialis peran sekelebat.

Di dunia film dokumenter ia pernah memproduksi sebuah film dokumenter sejarah politik Indonesia berjudul “Student Movement in Indonesia: They Forced Them To Be Violent” yang mendapatkan penghargaan sebagai Film Pendek Terbaik dalam Asia Pacific Film Festival ke-47 di Seoul pada bulan Oktober 2002 dan Piala Citra untuk kategori Film Dokumenter Terbaik dalam Festival Film Indonesia di Jakarta pada tahun 2004. Salah satu dampak dari kemenangan ini adalah ia seringkali diundang menjadi juri festival film dokumenter seperti Festival Film Indonesia ataupun Eagle Awards Documentary Competition di Metro TV.

Film dokumenter berikutnya tentang upacara pemakaman di Tana Toraja berjudul “Hidup Untuk Mati” (They Live to Die). Hasil kerjasama dengan sutradara/produser senior Gary Hayes, guru sekaligus rekan kerjanya sejak tahun 1993 sampai sekarang. Belum lama ini ia baru saja merilis film dokumenter terbarunya berjudul Setelah 15 Tahun, yang mengulas tentang perjalanan reformasi di tahun 1998 hingga tahun 2013 berikut wawancara beberapa aktivis 1998 yang kini mewakili suara profesinya masing-masing.

Ia juga banyak terlibat dalam pembuatan film dokumenter televisi tentang Indonesia maupun peliputan berita stasiun televisi ARD-TV Jerman di Indonesia. Bila jadwal memungkinkan, sampai sekarang ia masih mendampingi peliputan ARD-TV di Indonesia sebagai fixer.

“Ikut TV Jerman itu ketika sedang kumpul bareng teman-teman, ketemu mereka (kru ARD-TV). Waktu itu saya sudah tidak di RCTI, sudah freelance. Saya sudah jadi sutradara iklan waktu itu. Kemudian mulai krisis. Menganggur. Nah, saya main di news. Pas ada gerombolan TV Jerman. Diajak. Ya ikutan aja. Urat wartawan saya pun balik. Keterusan sama mereka, tiga tahun keliling Indonesia.”

Selain tulisan reportasenya yang pernah dimuat di berbagai media antara tahun 1986 – 1994, ia juga sudah menghasilkan dua buah buku yaitu “Ayah Anak Beda Warna! Anak Toraja Kota Menggugat” (Penerbit Tembi, 2008) dan “Dongeng Sebuah Produksi Film” (Penerbit Intisari, 2008). Keduanya sudah diterbitkan ulang. Buku “Dongeng Produksi Film Iklan (Asing) di Indonesia” ini adalah buku ketiganya, buku pertama dari trilogi “Dongeng Produksi Film (Asing) di Indonesia.

Pada tahun 2000 ia mendapat kesempatan mengajar sebagai dosen produksi film di Fakultas Film & Televisi, IKJ. Hasil dari tulisan-tulisan diktatnya untuk para mahasiswa ia jadikan buku berjudul Dongeng Sebuah Produksi Film: Dari Sudut Pandang Manajer Produksi (2008 & 2011).

“Saya mengajar di Fakultas Film dan Televisi, IKJ karena dijeblosin sama Mira Lesmana dan Shanty Harmayn. Mestinya mereka yang mengajar. Karena berhalangan, mereka meminta saya. Akhirnya saya yang keterusan mengajar, merekanya tetap sibuk shooting. Tahun 2008-2009 saya berhenti karena mulai sering ke luar kota. Nggak fair buat mahasiswanya. Sekarang paling kalau ngajar ya sifatnya berbagi.”

“Saya memang beruntung, tahun 1994 saya sudah dijeblosin untuk berurusan dengan film-film Hollywood. Orang-orang dari Hollywood, sutradara iklan, sutradara film cerita datang ke Indonesia. Kebetulan pada waktu itu hanya sedikit yang bisa berbahasa Inggris. Saya bisa berbahasa Inggris, bisa ngomong sama bule, saya terpilih untuk bekerja dengan mereka. Ya lama-lama saya belajar sistemnya mereka. Tahun 1994 pun saya sudah berurusan dengan timnya Bernado Bertolucci (Sutradara Film asal Italia yang menyutradarai film antara lain Last Tango in Paris, 1900, The Last Emperor, The Sheltering Sky dan The Dreamers). Pokoknya semua saya jalanin aja, yang penting niat belajar. Gitu aja.” 

Filmography

  • Victory(1995)
  • Last To Surrender(1999)
  • Petualangan Sherina(2000)
  • Pasir Berbisik(2001)
  • Ca-bau-kan(2002)
  • Student Movement in Indonesia: they forced them to be violent(2002)
  • Arisan” (2003)
  • Pesan Dari Surga(2006)
  • The Fall(2006)
  • Dunia Mereka(2006)
  • Quickie Express(2007)
  • Jermal(2008)
  • Tri Mas Getir(2008)
  • Married By Accident(2008)
  • Jagad X-Code(2009)
  • Pintu Terlarang(2009)
  • Eat, Pray, Love(2010)
  • Kabayan Jadi Milyuner(2010)
  • Sang Penari(2011)
  • They Live to Die(2011)
  • Rayya, Cahaya Di Atas Cahaya(2012)
  • The Philosophers(2013)
  • Setelah 15 Tahun…(2013)


Buku

  • Dongeng Sebuah Produksi Film: Dari Sudut Pandang Manajer Produksi(2008 & 2011)
  • Ayah Anak, Beda Warna! Anak Toraja Kota Menggugat(2008 & 2010)


Penghargaan

  • Best Short Film, Asia Pacific Film Festival ke-47, Seoul, 2002(2002)
  • Piala Citra untuk kategori Film Dokumenter Terbaik FFI, 2004(2004)

Sumber:
http://kinescopemagz.com/tino-saroengallo-usaha-keras-menentukan-masa-depan/

Baca selengkapnya
Adisurya Abdy Mudik ke Medan

Adisurya Abdy Mudik ke Medan

Adisurya Abdy di kantor Sinematek (Foto: jurnalruang.com)
Medan, Film Medan - Jika kita bicara film Sara & Fei Stadhuis Schandaal, mungkin banyak yang belum tahu sosok sutradara film terbaru yang sedang tayang ini. Terutama anak-anak muda yang lahir di atas tahun 90-an. Sosok Adisurya Abdy bagi mereka tidak pernah didengar.

Gita Cinta dari SMA tahun 1980 (Foto: free80515)

Tapi bagi penonton yang pernah merasakan kejayaan Bioskop Indonesia tahun 80-an, nama ini mungkin tidak asing lagi. Apalagi yang ingat sosok Galih, sang "Dilan" di masa itu. Ya, Adisurya Abdy adalah asisten sutradara film populer ini. Film yang naik ke layar lebar di tahun 1980 ini.

Bangku Kosong tahun 2006 (Foto: Internet)

Atau mungkin juga penonton masih ingat film Bangku Kosong yang sempat hits di tahun 2006. Film horor sebelum masa "Pengabdi Setan Reborn" ini juga mendulang sukses di masa itu adalah buah karya Adisurya.

Kali ini pria kelahiran Medan 29 Agustus 1956 yang juga kepala Sinematek ini hadir di kota Medan dalam rangka meet and greet film terbarunya setelah hiatus lama dari dunia penyutradaraan, Sara & Fei Stadhuis Schandaal.

Kehadiran Adisurya ini merupakan kejutan besar bagi penonton film nasional di kota Medan. Kesempatan untuk bertemu sang sutradara ini akan dilangsungkan saat nobar film ini di hari ini Jumat (27/7) di Cinema XXI Hermes pukul 17.10 WIB nanti.

Sebelum memimpin Sinematek Indonesia (pusat dokumentasi film satu-satunya di Indonesia, yang juga pernah menjadi lembaga pengarsipan film pertama di Asia Tenggara saat berdiri pada 20 Oktober 1975), jalan hidup Adisurya tak lepas dari film.

Pamannya, Abubakar Abdy, dan juga ayahnya, Abdurachman Abdy, yang berdarah Aceh adalah pemilik Rentjong Film Corporation atau Refic. Inilah perusahaan produksi film yang bermarkas di Medan, Sumatera Utara pada akhir tahun 1950-an hingga awal 1960-an. Adisurya masih ingat sewaktu balita kerap digendong Siti Aminah, ibunya yang berdarah Jawa, di lokasi syuting.

"Saya kadang-kadang ikut sama orang tua saya ke kantor. Sampai-sampai saya pernah terkunci di gudang peralatan. Pintunya ditutup pegawai kantor, dan mereka enggak tahu kalau saya sedang asyik main di dalam," kenangnya.

Namun, peristiwa pada 30 September 1965 menjatuhkan Rentjong Film Corporation ke titik nadirnya. Perusahaan tersebut kemudian bubar karena, kata Adisurya, film-film yang diproduseri pamannya dibuat oleh seniman-seniman anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi onderbouw Partai Komunis Indonesia (PKI). Salah satunya adalah Bachtiar Siagian.

Buku Katalog Film Indonesia 1926-2007 (2007) yang disusun JB Kristanto menyebutkan, Rentjong Film Corporation ikut memproduksi “Melati Sendja” (1956), “Turang” (1957), dan “Badja Membara” (1961). Tiga film tersebut disutradarai dan ditulis skenarionya oleh Bachtiar. Buku itu juga bilang, kolaborasi Abubakar dan Bachtiar sebagai produser dan sutradara juga terjadi pada dua film lainnya, yaitu “Sekedjap Mata” (1959) dan “Piso Surit” (1960).

Bachtiar Siagian sendiri menjadi direktur Lembaga Film Indonesia, yang merupakan bagian Lekra, sejak 1958 hingga 1966. Ia juga amat aktif menentang strategi perfilman dari kelompok Djamaluddin Malik dan Usmar Ismail—yang kini kita kenal sebagai Bapak Film Nasional.

Di era 1950-an hingga meletusnya peristiwa 30 September 1965, konflik ideologis memang sedang panas-panasnya. Mengutip buku Sinema pada Masa Soekarno (2016) karangan Tanete Pong Masak, film-film karya Bachtiar kemudian kerap jadi sasaran sensor dan kritik yang keras. Contohnya film “Daerah Hilang” (1956), yang juga diproduksi Rentjong Film Corporation, pernah ditolak dua kali oleh lembaga sensor. Beberapa kalangan bahkan menilai film tersebut bagian dari propaganda komunis dan bertujuan untuk mengobarkan konflik antar kelas sosial.

Penyimpanan film di Sinematek Indonesia (Foto: Adhytia Putra, jurnalruang.com)

Naiknya Soeharto dan Orde Baru ke tampuk kekuasaan pasca 1965 membuat sejarah ditulis ulang. Kesenian kena imbasnya. Film-film karya para seniman Lekra maupun yang dianggap memiliki hubungan dengan PKI lalu dilenyapkan dari catatan sejarah, tak terkecuali film-film Bachtiar Siagian.

"Semua filmnya sudah dimusnahkan. Sudah di-trace enggak ada yang ketemu. Padahal, film adalah arsip, dan film-film itu adalah karya dalam satu situasi, tapi kalau sudah dimusnahkan, itu semua jadi tinggal cerita. Sayang banget. Kita rugi karena kehilangan sejarah. Harus kita akui bahwa film karya anak bangsa adalah cerminan wajah kita pada periodenya, dan dengan melestarikan karya film, kita menjaga peradaban. Itu yang paling utama," ungkap Adisurya.

Maka, tak heran jika Adisurya terus berupaya agar film-film Indonesia terarsipkan dengan baik di Sinematek sejak memimpin lembaga tersebut pada 2013 hingga dua tahun mendatang. Ia melanjutkan pekerjaan Kepala Sinematek Indonesia sebelumnya, seperti almarhum Misbach Yusa Biran yang juga pendiri Sinematek, S.M. Ardan, Adi Pranajaya, dan Berthy Ibrahim Lindia.

Selain untuk promo film terbarunya ini, Adisurya juga mempertimbangkan untuk mengadakan nobar film Gita Cinta Dari SMA di kota Medan yang saat ini menjadi koleksinya di Sinematek Indonesia. Tentu, sebuah kesempatan berharga yang jangan sampai terlewatkan begitu saja untuk memajukan semangat perfilman di kota kelahiran beliau ini. (MG)

sumber: 
https://jurnalruang.com/read/1500362593-adisurya-abdy-tak-ingin-kehilangan-sejarah

Baca selengkapnya
Meet and Greet Sara & Fei Stadhuis Schandaal

Meet and Greet Sara & Fei Stadhuis Schandaal



Medan, Film Medan - Dalam rangka pemutaran perdana film Sara & Fei Stadhuis Schandaal yang serentak tayang di seluruh Indonesia, Film Medan bekerjasama dengan Komunitas Cinta Film Indonesia cabang kota Medan menggelar meet and greet bersama crew dan cast film ini pada hari Jumat tanggal 27 Juli 2018, bertempat di Cinema XXI Hermes Medan mulai pukul 17:10 WIB.

Kedatangan crew dan cast film sejarah dengan balutan modern ini ke kota Medan diharapkan mampu membangkitkan semangat cinta film nasional, sekaligus menyapa para penonton film nasional yang selama ini setia mendukung film nasional yang hadir di bioskop kota Medan.

Sebelum melakukan meet dan greet serta nonton bareng di siang harinya, tim film Sara & Fei Stadhuis Schandaal akan melakukan kunjungan ke beberapa sekolah di kota Medan diantaranya SMK Tritech, SMK BBC, dan SMK BIMSA Medan. Hadir dalam roadshow ke Medan dalam kegiatan ini (27/7) adalah sutradara film ini, Adisurya Abdy dan pemeran Chiko dalam film ini yaitu Haniv Hawakin.

Manu Gintings, selaku ketua Komunitas Cinta Film Indonesia cabang kota Medan juga menjelaskan bahwa tim akan membagikan beberapa merchandise official film Sara & Fei Stadhuis Schandaal kepada para peserta nobar yang hadir di Cinema XXI Hermes jam 17.10 WIB ini nantinya. Manu juga berpesan agar penonton segera membeli tiket seharga 35.000,- rupiah secara langsung atau dapat juga melakukan pemesanan melalui Film Medan.com sebelum kehabisan karena nonton bareng dan bagi-bagi merchandise official film ini hanya akan dilakukan pada 1 session pemutaran pada hari itu nantinya.


Tentang Film Sara & Fei Stadhuis Schandaal

Film Sara & Fei Sadhuis Schandaal ini adalah garapan Xela Pictures yang akan menampilkan beberapa artis yaitu Amanda Rigby, Tara Adia, Haniv Hawakin, Volland Volt dan Mikey Lie.

Film ini sendiri mengangkat kisah sejarah romansa petinggi Belanda yang pernah menjajah Indonesia. Adalah gubernur jenderal Belanda bernama JP Coen dan kisah cintanya dengan Sarah yang kali ini menjadi plot cerita.




Cerita dimulai dari Fey (Amanda Rigby) yang tengah membuat tugas sekolah dan membuat dirinya harus menelusuri sejarah museum Fatahilah. Akan tetapi aaat berada di museum Fatahilah, Fey melihat seorang wanita cantik keturunan Belanda yang diperankan oleh Tara Adia.

Keajaiban terjadi setelah pertemuan tersebut. Fei tiba-tiba dibawa ke masa lalu, dimana saat Indonesia masih dijajah oleh Belanda dan masih dibawah pemerintahan JP Coen saat masih menjadi gubernur jenderal Batavia. Fei lantas menyaksikan kisah cinta yang terjadi antara JP Coen dan Sarah.


Film ‘Sara&Fei--Stadhuis Schandaal’ ini ingin menyingkap tabir gelap skandal asmara di lingkungan gedung yang kini dikenal sebagai Museum Fatahilah yang dibangun oleh JP. Coen.

Film ini menyasar para pemuda zaman milenial saat ini dimulai dari usia 17 tahun ke atas. Meski kebanyakan pemeran masih tergolong baru di industri perfilman tanah air, namun film ini diprediksi mampu menarik perhatian para pencinta film karena alur cerita yang menarik.

Selain itu, film garapan Xela Pictures ini juga menjadi comeback bagi sang sutradara Adisurya Abdy yang hiatus panjang selama 14 tahun terakhir dari gegap gempita dunia film tanah air. (MG)


Foto-foto bersumber dari celebrity.okezone.com 

Baca selengkapnya
Festcil 2018 Open Submission
Konferensi ASEACC 2018 Hari Pertama

Konferensi ASEACC 2018 Hari Pertama



Yogyakarta, Film Medan - ASEACC (Association of Southeast Asian Cinemas Conference) kembali diadakan untuk yang ke sepuluh kalinya jatuh pada tahun 2018 diadakan di Pascasarjana ISI Yogyakarta pada tanggal 23 hingga 26 Juli 2018.

Asosiasi Konferensi Sinema Asia Tenggara (ASEAC) dimulai pada Mei 2004 dengan pertemuan perdana yang diselenggarakan dan diadakan oleh Asia Research Institute, National University of Singapore. Panitia pelaksananya terdiri dari akademisi muda dan praktisi film dibentuk tidak lama setelah 2004 dan sejak saat itu, diputuskan agar kegiatan ini diselenggarakan dan dijadikan menjadi event reguler yang akan berotasi di seluruh wilayah - sejauh ini Singapura 2004, Bangkok 2005, Kuala Lumpur 2006, Jakarta 2007, Manila 2008, Ho Chi Minh 2010, Singapura 2012, Salaya 2014, Kuala Lumpur 2016, dan Yogyakarta 2018.

Tujuan konferensi ASEACC adalah untuk meningkatkan tingkat discourse film di wilayah tersebut serta untuk mempromosikan kesadaran global tentang Sinema Asia Tenggara sebagai bidang studi yang beragam dalam studi film dan bidang kajian lainnya. Forum ini berusaha untuk menampilkan dan menciptakan wacana akademis dan sosial di antara para sarjana, kritikus film, penggemar dan aktivis media tentang beberapa sinema baru dari daerah, menyoroti film sebagai wahana ekspresi artistik, refleksi sosial-budaya, sebagai alat ideologis dan pendidikan serta untuk menyediakan forum bagi jaringan internasional di antara para peserta. 

Ciri unik dari konferensi ASEACC ini adalah kajian lintas dispilin dan kombinasi teori dan praktek: Tempat di mana para sarjana film, antropolog dan sosiolog dan aktivis budaya berbaur dengan pembuat film, kritikus, programmer, arsiparis, dan praktisi film lainnya. Pertemuan biasanya mencakup panel akademik yang berfokus pada isu-isu kontemporer yang dihadapi pembuat film, sejarah, genre, gender dan identitas lainnya, dll., serta dialog dengan praktisi film.

Untuk tahun ini tema yang diusung adalah Politik dari Kepercayaan, Spiritualitas, dan Religius dalam Sinema Asia Tenggara.

Suasana pembukaan konferensi di gedung Pascasarjana ISI Yogyakarta (Photo by: Manu Gintings)

Untuk hari pertama yang dilaksanakan setelah sambutan dan pembukaan oleh beberapa pelaksana konferensi ASEACC yang ke 10 di Pascasarjana ISI Yogyakarta diantaranya Wakil Direktur 1 Program Pascasarjana ISI Kurniawan Adi Saputro, Ph.D., Ketua bidang Penelitian dan Pengembangan Badan Perfilman Indonesia Tito Imanda, Ph.D. dan  Perwakilan ASEACC Thomas Barker.

dari kiri: Kurniawan Adi Saputro, Ph.D, Tito Imanda, Ph.D, dan Thomas Barker (Photo by Chris Woodrich)

Panel pertama konferensi ini dipandu oleh Gaik Cheng Khoo dari University of Nottingham Malaysia dengan tema "Representation of Gender" yang disajikan oleh:

Evi Eliyanah (Photo by: Chris Woodrich)

Evi Eliyanah (The Australian National University/ Universitas Negeri Malang) dengan judul Fahri to Chudhori: Reel Muslim New Man in Contemporary Indonesian Cinema;

Alicia Izharuddin (Photo by: Chris Woodrich)

Alicia Izharuddin (University of Malaya) dengan Cinema of Misrecognition: Islam, Gender, and the Terrorsit in Contemporary Indonesia Film;

IGAK Satrya Wibawa (Photo by: Chris Woodrich)

IGAK Satrya Wibawa (Universitas Airlangga/ Curtin University) dengan Seen the Unseen Balinese: Female Gaze in Children Space in Kamila Andini's The Seen and the Unseen; serta

Adrian Alarilla (Photo by: Chris Woodrich)

Adrian Alarilla (University of Washington, Seattle) dengan The Spectacular Body of the Father in Agony and Ecstasy.

Selanjutnya, setelah rehat makan siang, sesi berikutnya dipandu oleh Adam Knee dari LaSalle College of the Arts, SIngapore dengan panel yang disajikan oleh:

Bayu Kristianto (Photo by Chris Woodrich)

Bayu Kristianto (Universitas Indonesia) dengan paper berjudul Romantic Nationhood: A Critique of the Film 5cm through the Lens of Yi-Fu Tuan;

Ary Budiyanto (Photo by: Chris Woodrich)

Latifah and Ary Budiyanto (Kertarajasa Buddhist College and Brawijaya University) dengan Narrating Islam and Adat in Contemporary Makassar Cinema;

Tito R. Quiling Jr. (Photo by: Chris Woodrich)

Tito R. Quiling Jr. (University of Santo Tomas) dengan Distress in the Marshlands: Mapping Landscapes of Fear and Faith in Francis Xavier Pasion’s Bwaya (2014); serta

Katrina Ross Tan (Photo by: Chris Woodrich)

Katrina Ross Tan (University of the Philippines Los BaΓ±os) dengan Religion in Philippine Contemporary Life: Analysis of Selected Regional Short Films.

Sesi kedua ini kemudian dilanjutkan dengan Film Screening film Sunya (the Talisman) yang digarap oleh Hari Suharyadi di tahun 2017.

Gumuk Pasir Parangkusumo di malam hari (Photo by: Manu Gintings)

Sebagai penutup, para peserta konferensi kemudian bersama-sama mengunjungi Gumuk Pasir Parangkusumo, melihat langsung aktivitas warga di sana dengan ritual pantai yang ada di sana. (MG)

Baca selengkapnya