Update Film • Komunitas • Info Nonton • Medan
Home About Contact
Breaking
Kenapa Kami Setuju Ikut Acara Hedon di LTFF 3.0

Kenapa Kami Setuju Ikut Acara Hedon di LTFF 3.0

Samosir, Filmmedan. Mengarungi jalan tol sepanjang Amplas - Tebing Tinggi yang dibanggakan sejak selesai dibangun kemarin, melintasi Siantar - Ajibata dan tiba di dermaga tepat pukul 2130 -yang artinya kami ketinggalan kapal terakhir-, nginap di dalam mobil semalaman, hingga akhirnya bisa menyeberang ke Ambarita bersama feri Ihan Batak keesokan harinya, hanya untuk bergabung bersama partisipan lainnya di Pantai Indah Situngkir adalah sebuah perjalanan yang melelahkan!

Ini semua bermula seperti biasanya di bulan-bulan menjelang akhir tahun, teman2 dari Rumah Karya Indonesia (RKI) dengan undangan hajatan rutin sejak 3 tahun terakhir, Lake Toba Film Festival (LTFF). Yang membedakannya dengan tahun ini, tidak hanya undangan hadir sebagai pembicara dalam simposium, kali ini ada juga undangan untuk memproduksi film kolaboratif dengan komunitas2 film lainnya. Kami -Manuprojectpro Indonesia- kebagian post produksi untuk film yang kemudian lahir dengan nama khas Batak, "Bona Parsogit".

Sering kami berbagi prinsip bahwa festival film bagi kami adalah sebuah perayaan film, sebuah kesempatan untuk menjadikan film sebagai alasan untuk berpesta bersama, merasakan kemeriahan beserta pencinta film lainnya. Dan karena kebetulan pesta jenis ini yang rutin tersedia di dekat kami hanya ada ini, lalu apa alasan kami untuk tidak menghadirinya? Apalagi sebagai bagian dari insan sinema di Sumatera Utara ini? Ah, karena kehabisan alasan bagus untuk menolaknya, kami memutuskan untuk wajib ikut!

Simposium film, diskusi panel teknis film, pemutaran film, 1000 tenda, dan tentunya: pesta! Suguhan dengan ciri khas tepian Danau Toba di lepas pantainya adalah menu wajib LTFF. Untuk tahun ini, menunya lebih terlihat sederhana, tapi mengenyangkan. Tidak terkesan berlebihan, nampak bahwa kawan2 RKI makin matang dan dewasa dalam mengeksekusinya. Sungguh rasanya pas! 


Hidangan simposium film Sumut bertajuk, "Menggali Identitas Berbuah Kreatifitas" tersaji sederhana namun mengenyangkan dengan kehadiran insan sinema lainnya seperti dr. Daniel Irawan, Onny Kresnawan, Hendry Noorman, Diana Saragih, Mameng, Robby Saputra, Fajar S. Nugraha, dan banyak lagi untuk berbagi tawa dan sapa sepanjang acara. Puas!


Ah, tentu tidak lengkap apabila pesta tanpa musik dan goyangan, terkesan hedon memang, tapi apa jadinya tanpa itu semua, setelah pasir, danau, dan langit di atasnya? Sempat terbersit di pikiran bahwa apakah justru ini akan merusak identitas "kearifan lokal" yang dipuja-puja setiap bicara film atau karya "daerah" lainnya? Kami merenung, lalu berkesimpulan, LTFF ini milik semua orang. Santuy -bukan santun- adalah kata kunci untuk menikmatinya. Jangan terlalu kaku, ini bukan sajian ritual berbalut budaya yang butuh sakral-sakralan seperti yang dikhawatirkan. Paradoks apabila sebelumnya agak berisik sedikit tentang konsep "Wisata Halal" yang membuahkan festival babi. Intinya sama, ini santuy dengan batas kewajaran. Sepakat, karena toh masyarakat sekitar mulai anak kecil hingga oppung, serta perangkat kabupaten Samosir juga mondar-mandir sepanjang acara kok. Aman!


Malam yang sesekali menggoda lewat guyuran air gerimis, merupakan "puncak acara", ibarat maincourse-nya lah kira-kira! Dengan pemutaran film, penampilan local band, dan seperti biasa, formalitas birokrasi mulai dari Bupati Samosir, Dinas Pariwisata Samosir, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut, Kepala Taman Budaya Sumut, serta Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Sayang, pemutaran film hasil produksi kolaborasi yang cukup menguras waktu dan tenaga kami sebagai tim post produksinya harus disertai hujan yang semakin tidak bisa diajak kompromi. Jadilah masterpiece yang rencananya diagung-agungkan di hadapan partisipan LTFF 3.0 ini harus dinikmati bersamaan dengan gerimis. (Yang menjadi alasan kami cerewet sedikit dengan menyarankan agar LTFF berikutnya diperhitungkan jangan diadakan di bulan-bulan penghujan).

Hingga kisah ini disajikan, hujan masih belum bisa dikondisikan, seolah menunjukkan bahwa mereka bukanlah sesuatu yang bisa diatur-atur seenaknya oleh manusia (yang dari awal kami yakin, ada pawang hujan yang dipakai panitia untuk mengusirnya!). Tapi, seiring dengan suara film yang terdengar hingga ke dalam tenda tempat kami berteduh, yang membuat kami tak bisa menyaksikan premiere filmnya, kami terbawa suasana sejuk di atas pasir pantai ini. Kembali kami memastikan, bahwa semua ini cukup untuk meyakinkan agar kami mendapuk LTFF 3.0 adalah sebuah hajatan yang sukses, menarik dan wajib kami hadiri! (MG)

Baca selengkapnya
Review Film Perempuan Tanah Jahanam (2019)

Review Film Perempuan Tanah Jahanam (2019)


Medan, Film Medan - Jujur, kemunculan trailer dan bayangan sebelumnya tentang horror yang kabarnya lebih seram dari pada Pengabdi Setan (2017) lah yang membuat persiapan nonton Perempuan Tanah Jahanam (PTJ) ini terasa lebih menegangkan. Stereotype jumpscare yang selalu ada pada semua film horror akan membuat perasaan tidak tenang pada jenis shot-shot lambat yang terfokus pada sebuah titik di layar. Celakanya, jenis shot ini tersebar banyak di semua scene, jadi, pantas kutipan oleh Dimas Djay selepas menonton film ini adalah:
“Bikin migrain, taik!”.
Joko Anwar sudah menulis ide cerita ini sejak 2009 saat ia sering mengalami mimpi berada di sebuah desa dan melihat seorang perempuan tua di depan sebuah rumah. Tidak mudah membujuk production house untuk sebuah film thriller katanya. Sebenarnya proyek film ini telah bermula sejak 2011 saat Joko menggugah poster film ini. Kabarnya proyek ini batal karena banyaknya produksi film oleh Lifelike Pictures yang awalnya memproduksi film ini.

Baru lah kemudian rumah produksi Base Entertainment yang didirikan Shanty Harmayn bisa mempresentasikan skenario PTJ kepada Ivanhoe Pictures, perusahaan film di Los Angeles, Amerika Serikat, yang memproduksi film Crazy Rich Asians (2018) dan the Wailing (2016). Bersama dengan Ghost in the Cell dan The Vow, film ini mendapat suntikan dana dari Ivanhoe Pictures. Tak hanya Ivanhoe Pictures, ternyata CJ Entertainment dari Korea Selatan, rapi Films, dan Logika Fantasi pimpinan Tia Hasibuan akhirnya ikut memproduksi film PTJ ini dengan konsep horror yang lebih pada thrillernya. Kurang ajarnya, aku baru tahu tentang jenis film ini setelah nonton, bukan sebelumnya!

Judul awal film ini adalah Impetigore yang kemudian beralih menjadi Perempuan Tanah Jahanam diumumkan Joko Anwar di akun instagramnya pada 31 Desember 2018.

Jadilah review ini ditulis dengan pengalaman sepanjang film yang lumayan membuat stress, di antara menikmati film apa adanya, dan juga belajar dari semua elemen yang ada di dalamnya! (Btw, untuk film ini, kami tim filmmedan nonton lengkap dari sutradara, penulis script, penata artistik, penata suara, cinematografer. Masing-masing pastinya punya tinjauan sendiri-sendiri)

Bagaimana Perempuan Tanah Jahanam Diceritakan

Sederhana sebenarnya ceritanya kalau dipikir-pikir, seorang perempuan Maya (Tara Basro) yang menemui kejadian aneh saat bekerja di tempat sebelumnya, hingga akhirnya memaksanya bekerja sebagai pedagang baju bersama sahabatnya Dini (Marissa Anita). Maya menemukan sebuah foto yang menunjukkan bahwa keluarganya di desa mungkin memiliki sebuah rumah besar yang bisa dijadikan modal usaha. Dan Dini memaksa ikut meski sudah dilarang. Di sana mereka menemukan rumahnya, dan bonus semua hal jahanam lain yang menyertainya hingga akhir film.

Dari runtutan cerita aku bisa membayangkan betapa Joko Anwar berusaha penuh untuk menyusun naskah ini secara matang. Alurnya rapi. Beberapa hal ditambahkan agar tidak ada kesan bahwa hal itu terpaksa muncul. Bahkan di saat aku merasa bahwa ini adalah sebuah kebetulan yang sangat kebetulan pun, ternyata malah nggak ada urusannya dengan linimasa filmnya. Asu! Padahal sudah lumayan memakan memori otak saat menyimpannya di tengah-tengah penyajian adegan yang bikin stress.



Barulah setelah kemunculan Ki Saptadi (Ario Bayu) dan Nyi Misni (Christine Hakim), barulah aku merasa memang ini tidak akan sama dengan pengabdi setan. Jadi, ketakutan terhadap setan lumayan terhenti sejenak, berganti rasa penasaran dengan adegan sadis yang tersaji. Celakanya, hantu kurang ajar itu malah muncul lagi di bagian jelang akhir! Bangsaaat!

Oke lah, sebuah jalan cerita lainnya akan mendampingi penceritaan PTJ ini. Sebuah cerita yang menjadi kunci mengapa Harjosari menjadi tanah jahanam. Sebuah kisah yang melibatkan Ki Donowongso (Zidni Hakim), Ki Saptadi, Nyai Shinta (Faradina Mufti), dan Nyi Misni. Tentunya tidak akan aku ceritakan di sini kan?

Tentu tidak juga harus dipisahkan cerita tentang Ratih dan suaminya Bimo (terpaksa aku tak menyebutkan pemerannya karena pastinya akan menjadi spoiler perusak cerita). Ratih yang punya sifat lain dengan penduduk desa Harjosari lainnya ini akan memiliki cerita sendiri yang melengkapi pecahan misteri yang harus dihadapi Maya alias Rahayu.

Lain pula kisah sang polisi Suryo asal Harjosari (Muhammad Abe) yang awalnya diceritakan akan menyelamatkan Maya dan Dini dengan didampingi oleh Adul sang pengemudi dokar (Abdurrahman Arif) dan kisah tentang istrinya yang tengah mengandung yang menjadi pelengkap kengerian desa Harjosari yang menurut karakter Ratih yang meneruskan pesan mbahnya, 
"Kalau orang bikin perjanjian sama setan dan lahir kutukan, kutukan itu nggak bisa hilang, hanya akan berubah jadi kutukan lain."

Selama 106 menit, aku dibawa membuka satu per satu misteri rumit dan menghilangkan rasa penasaran. Sempat tadinya sedikit saja kehilangan konsentrasi dan tidak memperhatikan adegan demi adegan serta dialog demi dialog, tentu akan sangat mengganggu pemahamanku terhadap logika cerita yang mau disampaikan. Sekali lagi jahanamnya, kunci misteri itu satu per satu disampaikan melalui adegan-adegan sadis dan horror! Ah iya, supaya kalian lebih stress lagi nungguinnya, aku harus sampaikan bahwa ada satu adengan jumpscare laknat di film ini. Tungguin aja!

Mereka yang Menghidupkan Peran di Perempuan Tanah Jahanam

Sudah, kalau bicara pemeran, yang udah biasa dengan karya Joko Anwar pasti sudah tidak akan mempertanyakan Tara Basro dan semua detail yang melekat padanya dalam setiap karakter yang dibawakannya di film-film sebelumnya. Karakter Maya alias Rahayu sangat realistis menggambarkan seorang perempuan yang sampai gadisnya tidak ingat apa-apa mengenai keluarganya. Dekilnya masuk. Cantiknya? Ah.. adegan pipis di toilet di film ini lumayan membekas di kepala, walau merasa sayang pahanya yang mulus itu harus sobek oleh karena benda laknat yang akhirnya larut dalam air bercampur darah dalam kloset!

Marissa Anita yang memerankan Dini, adalah pelengkap yang manis untuk jalan cerita ini. Kalau tadi kita hanya disuguhkan paha mulus dari pemeran Maya, untuk Dini malah kita akan melihat lebih, dan lebih juga akan diingat, tapi jangan harap nafsu saat melihat detailnya, karena... ah nonton lah kau! Biar jelas! Tapi untuk karakter Dini sang sahabat yang mulai dekat sejak menjadi petugas gerbang Tol, sama-sama sudah menjadi penjual baju di pasar, dan menyertai perjalanan Maya ke desa Harjosari yang mengerikan. Dini ceriwis dan perhatian tetapi jujur kehadirannya memang hanya untuk merelasikan karakter utama film ini dengan misteri yang ada di desa Harjosari. Nggak perlu aku bocorkan juga karena di trailer, sosok Dini digantung terbalik dengan pisau diasah di depannya kan?



Ratih, sang perempuan yang asli Harjosari secara baik diperankan oleh Asmara Abigail. Sang pemeran Asih di film Setan Jawa (2016) ini juga sebenarnya muncul di film Pengabdi Setan sebagai Darminah. Ah, tak perlu mengingat nama terakhir itu, karena namanya tak perlu! Sungguh tidak perlu! Jebolan Master dari Milan, Italia ini memang punya wajah yang dibilang cantik, tapi kok seram.. ya begitulah! Dalam film ini menggambarkan sosok perempuan Jawa yang penuh dengan quotes-quotes bijak yang bisa dipakai untuk posting nasehat-nasehat di medsos. Sungguh! Selain tentu saja kalimat, “kerasa nggak?” yang bikin trailer film ini sukses membuat penasaran! Aktingnya diperankan baik, tapi cukup mengganggu karena hanya dia ini yang cantiknya beda dengan gadis-gadis kampung Harjosari yang lainnya.

Ki Saptadi yang diperankan Ario Bayu cukup disajikan dengan apik. Bukan hanya sebagai sosok dalang kalem di desa Harjosari, tapi jujur sejak kemunculannya di lokasi tempat perempuan digantung terbalik, aku sempat berharap dia sebagai tokoh protagonis di bagian akhir film ini. Dan tak terlalu meleset kok keinginanku ini, tapi membayangkan hubungannya dengan Nyi Shinta serta kaitannya dengan Nyi Misni, ibunya menjadikan film ini terasa padat. Penuh!

Faradina Mufti adalah pemeran Nyai Shinta. Kunci dari misteri yang ada di desa Harjosari. Dalam film ini adalah istri dari Ki Donowongso sang dalang anak penguasa tanah Harjosari. Tidak terlalu banyak kemunculannya dalam film ini, tetapi adegan syurnya dengan Ki Saptadi adalah suatu bonus remahan yang takkan terlupakan, plus cara kematiannya yang tidak secara gamblang ditampilakan di dalam film, tetapi jujur, setelah kemunculannya lah aku baru bisa menebak jalan cerita PTJ ini secara keseluruhan.

Dan Nyi Misni! Yak! Tidak hanya di awal film. Peran ini sukses dibawakan oleh Christine Hakim, sosok aktris senior Indonesia yang tidak lagi perlu dipertanyakan legendanya di perfilman Indonesia. Sungguh sebuah aksi di film horror pertamanya yang sangat luar biasa. Benar-benar akan lama diingat oleh penontonnya. Secara apik memang, kemampuannya menggunakan pisau, seperti perannya dalam film Tjoet Nya’ Dien (1988) plus wajah kaku dan kaki agak pincang di sepanjang film menjadikan karakter Nyi Misni ini hidup dan kunci dari semua misteri yang terjadi di Harjosari. Agak disayangkan memang klimaks filmnya sedikit terlalu “sinetron”. Tapi di bagian akhir film, Nyi Misni ini lagi-lagi bikin jantung berdegub kencang! Walau tak sekencang di bagian tengah film.

Set Lokasi Perempuan Tanah Jahanam

Sepanjang film kita disuguhkan lokasi yang cantik, sunyi dan mencekam. Frans Paat, sang production designer benar-benar harusnya mendapat standing applause selepas film ini berakhir. Sungguh! Kalau di film Marlina sang Pembunuh dalam Empat Babak (2017) kita berhasil disuguhkan set cantik hasil ramuan bang Frans sebagai art directornya, di film PTJ ini, kita akan benar-benar mengagumi lokasi dan set yang disusunnya bersama tim. Dari awal memang kita selalu dibuat merinding dengan lokasi-lokasi yang dipilih.

Dari pengakuan Joko Anwar, hari pertama syuting PTJ adalah syuting di pasar. Karena alasan dolly tracknya kurang panjang, maka mereka bin tempat kamera dari gerobak. Dan karena mereka tidak punya mesin asap. Maka kru menggunakan vape untuk bikin asap jalanan. Kreatif dan gila untuk film sekelas bioskop!



Khusus untuk hutan, kabarnya empat jenis hutan, yaitu yang terluar hutan pinus, kemudian hutan homogen kayu-kayu besar, hutan bambu dan hutan heterogen di dekat desa. Bocoran dari Joko Anwar juga bahwa akhirnya syuting dilakukan di beberapa tempat yang berbeda di sepanjang Jawa Timur (Malang, Gempol, Lumbang, Bromo, Lumajang, dan Ijen). Khusus untuk rumah besar dalam cerita Perempuan Tanah Jahanam, ditemukan di Banyuwangi, sebuah rumah yang memang tidak dihuni selama hampir 30 tahun. 

Sungguh adegan-adegan di dalam rumah ini di sepanjang film benar-benar membawa kita masuk ke dalamnya. Walau.. seperti kata bang Ronny Paulus Tjandra sang pemeran Badut di film Badoet (2015), 

“Gue suka heran sama film horror Indonesia. Pergi ke daerah asing, ada rumah/ tempat angker, terus santai aja tidur/ nginap di situ. Cari penyakit! Nggak bisa nginap di rumah penduduk aja?” 

Tapi jawaban pernyataan abang ini lah yang coba terus dijawab Joko Anwar di film ini, dengan logika-logika yang dihasilkan dengan kerja keras. Aku rasa sih bang.. lumayan berhasil sedikit lah.. kalau nggak, ya nggak bakalan jadi cerita di filmnya ini. Beberapa detail seperti mengapa mereka memilih untuk tinggal di rumah tua daripada pulang kembali malah ada di dialog karakter Maya dan Dini, plus mengapa tidak tinggal di rumah warga juga sudah coba dijawab dengan sambutan warga kepada mereka di beberapa adegan.

Kepaiawaian Mereka Melukis Perempuan Tanah Jahanam dengan Kamera

Oke, sejak menggarap Radit dan Jani (2008), bang Ical J. Tanjung memang sudah menunjukkan kelasnya sebagai seorang cinematographer dan director of photography yang layak diperhitungkan di Indonesia ini. Nggak akan pernah terlupakan bagaimana bang Ical harus mengambil gambar obat-obatan terlarang dan tindak kriminal di sepanjang film ini. Tapi adegan di atas tempat tidur dan duduk di pinggir jalan plus adegan sakau dan mengerang kesakitan dalam film ini sangat dramatis di tangan beliau.

Lalu, kurang apa lagi? Beberapa tahun terakhir, kita sudah disuguhkan film-film Pengabdi Setan (2017). Ave Maryam (2018), Foxtrot Six (2019), dan Gundala (2019). Semuanya dengan konsep gambar yang luar biasa! Plus, tata cahaya PTJ ini dari penuturan Joko Anwar dilakukan dengan sangat hati-hati dan mendetail untuk mendapatkan pencahayaan yang natural. Tak jarang tim tata kamera dan cahaya yang dikomandoi Ical Tanjung mendesain lampu khusus.



Bukan sebuah kebetulan tiga bulan terakhir ini kami di Manuprojectpro juga sedang getol-getolnya memperbaiki tata cahaya kami di setiap produksi kami, ini karena kami sangat menyadari bahwa beda antara memberi perhatian pada tata cahaya film dengan tidak sangatlah besar. Kami harus memberikan perhatian serius untuk masalah tata cahaya ini!

Sepanjang film aku berusaha menghubungkan semua teori tentang narrative beat dan acting beat yang setengah mati coba kupahami sebelumnya dari hasil workshop penyutradaraan Pusbang dahulu itu dengan gambar-gambar yang disajikan tim PTJ. Aku mengagumi keindahan penempatan sudut kamera, pergerakan kamera, dan ukuran frame kamera yang mereka gunakan. Semua gambar punya motivasinya masing-masing. Mencoba memahami hal ini lah yang kemudian menjadikan pengalaman nontonnya jadi terasa lebih berat.

Tapi bukan tanpa pengecualian. Aku juga masih memiliki sedikit catatan kurang sreng dengan pemilihan cara pengambilan gambar di beberapa adegannya. Seperti adegan Ki Donowongso dan Ki Saptadi dengan tiga anak kecil (Aura Agna, Sindris Ogiska G, dan Devona Quenny) dan semua pendukung penampilan wayang kulitnya. Sedikit terasa "ramah" di sebuah film yang dari awal sudah memaparkan kekejaman dan kesadisan. Aku sempat berpikir memangnya kalau kesadisan yang dilakukan oleh dalang itu harus ditampilkan di balik layar putih dan hanya bermain dengan bayangan? Haruskah?

Aku juga mengagumi adegan lari di hutan, serta penyusuran detail jalan di desa Harjosari, plus pergerakan kamera di kuburan. Tiga teknik pengambilan gambar itu membuat hati serasa akrab dengan lokasi ceritanya. Terasa bahwa aku benar dibawa masuk ke dalam cerita. Seramnya adegan itu sangat terasa!

Apresiasi lebih lanjut lagi tatkala adegan malam baik di dalam rumah tua maupun di sepanjang desa Harjosari yang diberi nuansa merah oleh bang Ical dan team benar-benar dramatis. Ini bisa kubayangkan betapa rumitnya ekslorasi settingan lensa dan kamera saat menangkan adegan-adegan ini. Mereka berhasil menyampaikan cerita dengan gambar yang menakjubkan ini!

Ah iya, jangan lupa, bang Ical ini juga muncul sebagai salah satu polisi di film Perempuan Tanah Jahanam! Yang ini bukan spoiler ya. Tapi layak dicermati penampilannya di film!

Bunyi-bunyian Tanah Jahanam

Di bagian Sound Department, nama-nama seperti Mohammad Ikhsan (sound), dan Anhar Moha (sound recordist) menghiasi jajaran pembuat suara di PTJ.

Mohamad Ikhsan menurut Joko Anwar: 
"Orang yang memadukan suara yang direkam di lapangan dengan suara yang dibuat di studio untuk memperkaya rasa, menajamkan penceritaan. Tekun dan passionate"
Mohamad Ikhsan Sungkar ini adalah sound designer film My Stupid Boss (2016), Dilan 1991 (2019), Sin (2019) dan Susi Susanti: Love all (2019). Bang Ikhsan ini adalah rekan setia mendiang Khikmawan Santosa. Kolaborasi pengerjaan sound film sering ia lakukan bersama bang Kiki, panggilan bang Khikmawan Santosa.

Plus Anhar Moha sang sound recordist, yang menurut Joko Anwar:
"Perekam suara di lokasi yg mampu merekam dialog pemain & ambience dengan jernih di medan yang sulit sekalipun. Saya selalu menghindari ADR (Automated Dialog Replacement atau dubbing) tiap bikin film makanya skill Anhar sangat bermanfaat."
Anhar Moha adalah sosok sound recordist rekan bang Kiki juga di film Pengabdi Setan yang membawanya mendapatkan Piala Citra.



Mengenai tata suara ini, jelas sangat mendukung terciptanya dramatisasi adegan demi adegan di dalam film ini. Dari awal film, suara-suara dalang wayang kulit sudah menghantarkan kita dengan manis disertai suasana yang tidak biasa. Plus, di sepanjang film suara-suara ini lah yang membuat kesunyian desa Harjosari, keseraman rumah tua, dan adegan-adegan mencekam itu mengganggu ketenangan jiwa penontonnya.

Di bagian music scoring, kehadiran Aghi Narottama, Bemby Gusti, Tony Merle, plus Mian Tiara menjadikan scoring film terasa melekat sampai menembus kulit (halah!). Beberapa judul music scoring ini bisa didengar melalui Spotify, Apple Music, Joox, dan platform lainnya. Perempuan Tanah Jahanam Theme, Pesan Dari Masa lalu, Harjosari, Darah, Kulit, dan "Kerasa Nggak?" adalah beberapa judul music scoring yang layak didengar sendirian di malam hari, membayangkan perjalanan ke desa Harjosari.

Tidak hanya bagaimana gending Jawa menyayat hati di beberapa adegan, rasa kaget kami saat musik lagu "Joyful, joyful" yang notabene lagu gereja menjadikan kami saling pandang dengan muka terkejut, saat adegan Maya berlari ke luar dari desa Harjosari. Sebuah kejutan manis dari tim PTJ, yang dengan sangat terpaksa aku bongkar di review ini! 



Khusus di bagian Original Sound Track (OST) PTJ, The Spouse punya lagu Pujaan Hati yang menurut ku sebenarnya liriknya tidak punya kaitan apa-apa dengan film, hanya melalui musiknya, aku sukses di bawa masuk ke dalam dimensi cerita PTJ ini lebih dalam. Entah karena memang jenis musik seperti ini sangat cocok untuk menghipnotis menarik alam bawah sadar ku, atau juga mungkin karena dengan mendengar lagu jenis ini, perasaanku ditarik paksa ke sebuah masa di mana rasa nyaman dan takut bersatu di masa lampau, di masa kecil ku. Jiaaah.. bukan berlebihan lah. tapi sejak jenis musik ini digunakan di Pengabdi Setan kemarin, aku merasa komponen OST ini memang menjadi daya tarik tersediri untuk film jenis ini.
"Oh kasih pujaan hatiku, dengar pinta ku selalu. Jangan pernah lupakan, akan terus bersama sampai akhir... sampai mati..."

Akhir kata, aku harus mengakui bahwa fungsi media sosial, khususnya Twitter sangat berjasa dalam publikasi film Perempuan Tanah Jahanam ini dari mulai rilis pertama hingga detik saat review ini aku tulis sudah menembus angka 1.133.160 penonton. Sungguh interaksi yang dibangun bang Joko Anwar bersama netizen di sana lah yang lebih membesarkan film ini ke permukaan. (MG)

Foto-foto: Twitter Account Joko Anwar

Baca selengkapnya
Review Film Pariban Idola dari Tanah Jawa (2019)

Review Film Pariban Idola dari Tanah Jawa (2019)



Medan, Film Medan - Ekspektasi terhadap film budaya atau berlatar budaya yang sempat bertumbuh melalui film “Jandi La Surong” (2019) hasil karya sineas Sumatera Utara belum lama ini, merupakan modal kuat penulis untuk menyaksikan “Pariban: Idola dari Tanah Jawa”. Sungguh, proses penggalian potensi yang dimiliki Sumatera Utara yang punya banyak kebudayaan ini adalah suatu hal yang membanggakan, khususnya bagi penulis yang jelas asli kelahiran Sumatera Utara.

Sebenarnya ekspektasi semakin besar melihat trailer yang disajikan sebelum film ini masuk layar lebar. Dengan durasi dua menit, beberapa lelucon segar lumayan menggoda untuk disaksikan. Dari sana kemudian pula bisa dibayangkan ciri humor Sarkas dengan ucapan bapak Moan (Joe Project P) yang menggambarkan betapa fulgar dan sarkasnya komedi dalam film ini. Kemunculan bintang-bintang ternama seperti Ganindra Bimo (Headshot), Atikah Hasiholan (Toba Dream, Tiga Nafas Likas), Rio Dewanto (Filosofi Kopi), dan Rizky Mocil (Love for Sale) juga memperkuat ekspektasi, plus sebagai pamungkasnya Andibachtiar Yusuf yang mempesona melalui "Love for Sale" (2018) dan Stayco Media sungguh membuat harga tiket bioskop di weekend terasa tidak menjadi halangan untuk segera menikmatinya.

Penulis masih terpapar nostalgia serial "Pariban dari Bandung" (1997) yang sangat apik, baik dari karakternya, maupun cara penceritaan oleh Eduart Pesta Sirait kala itu. Siapa yang bisa lupa dengan tingkah Cok Simbara dan romansanya yang dibangun bersama Nella Regar? Dari awal kabar film ini akan diproduksi, penulis sudah melambungkan khayalan mengenai betapa bagusnya film ini nantinya.

Dan malapetaka itu kemudian hadir mulai dari awal film hingga lima menit pertama. Komedi cerdas dan elegan ala Love for Sale tiba-tiba hilang tak membekas sedikitpun di film ini. Suguhan gambar demi gambar bak sineas baru belajar melucu disuguhkan. Hal-hal yang mengganggu fokus penonton di tiap adegan dipaksa sebagai suatu hal yang lucu. Kolase demi kolase, bukan sebuah kesatuan narasi yang kuat terus dipajang, memaksa penonton masuk ke dunia yang dihuni Halomoan Brandon Sitorus yang sama sekali tidak menggambarkan ciri seorang keturunan Batak dari Samosir, sungguh pun dari lahir tak pernah pulang ke kampung hlamannya sekalipun. Untungnya kehadiran Mamak Moan yang berboru Silalahi sedikit meyakinkan, mengingat bahwa kampungnya ada di Samosir. Tapi sungguh, kehadiran Lina Marpaung alias Mak Gondut di sini lagi-lagi tidak menguatkan kesan. Rasanya semakin menambah keraguan piala citra tahun 2012 yang diraihnya melalui “Demi Ucok” (2012). Sebuah ajang FFI yang penuh kontroversi dari segi nominator maupun pemenangnya. Penulis sudah berusaha memaafkan melalui film “Luntang Lantung” (2014), dan “Lamaran” (2015), tapi sungguh, tidak ada sedikitpun perubahan berarti yang dibawakan melalui peranan beliau. Terkesan hambar dan jauh dari harapan Ibu Batak yang penting dan lucu.

Dalam babak berikutnya, penulis mencoba mengembalikan semangat menontonnya karena setting film ini kemudian berpindah ke Tomok! Sebuah tempat yang tak lagi asing bagi penulis. Baik dari perjalanan melalui Panguruan via Tele, ataupun menerobos membelah Danau Toba melalui Perapat via Ajibata. Penulis yang penuh percaya diri akan merasa mudah untuk masuk ke setting itu, sedikit ternganga melihat “Samosir” yang disajikan. Sebuah kalimat celetukan penulis lontarkan seketika saat adegan demi adegan tentang Samosir dimunculkan, “Sok tahu!” Paling fatal adalah perjalanan dari rumah Uli yang jelas terlihat di daerah Pangururan, tiba-tiba berbelanja di Pasar Balige! Dan pulangnya diajak ke Tomok yang ternyata Batu Persidangan Siallagan di TukTuk! Astaga! Belum lagi kemunculan adegan pertunjukan di batu persidangan sebagai bagian dari “acara muda-mudi” Samosir katanya, di malam hari pula!

Hancurnya ekspektasi atas film berlatar budaya Batak yang benar ini kemudian penulis coba nikmati sebagai film stereotype kelas rendah melalui lelucon yang disajikan melalui karakter Binsar, Halomoan, dan keluarga Uli. Berkali-kali penulis mencoba memaafkan ketidaksesuaian ciri orang Samosir yang dibawakan dalam adegan demi adegan. Plus, ketidakkonsistenan tingkat “kaya”nya Halomoan yang terlalu “miskin” hingga urusan memiliki kendaraan di Samosir dan mengganti anjing yang tertabrak saja harus dipaksakan logis bagi penonton.



Arah dan tujuan setiap karakter yang muncul sedemikian berantakannya, sehingga membuat hilangnya chemistry antar karakter. Hambar yang terasa saat penulis mencoba merasakan romansa antara Moan dan Uli, serta kecerdasan Uli yang tiba-tiba terlihat feminis dengan prinsip pariban yang dibawanya. Please! Penulis tidak bisa lupa, Uli katanya lulusan luar negeri! Serpihan makin bertebaran saat memaksakan Bapak Uli (Rukman Rosadi) dan Ibu Uli (Dayu Wijanto) harus disetujui sebagai bapak dan ibu asli Samosir dengan segala keluguan dan kampungan ala Samosirnya. Sayang, pembuat film ini semuanya tak paham bagaimana seharusnya orang-orang Samosir itu ber-adat-nya. Belum apa-apa seorang Nantulang memeluk berenya tanpa sungkan di depan rumah!

Hingga akhir film, akhirnya kekecewaan terhadap film ini semakin memuncak. Promosi murahan yang mengajak penonton untuk mengikuti lanjutan film ini berikutnya nanti layak menjadi cibiran. Tak belajar dari kasus “Benyamin Biang Kerok” kemarin yang sukses menjadikan suku Betawi jadi murahan, kali ini sukses pula merendahkan nilai Batak dalam film menjadi sebuah objek jualan “sekuel” yang dipaksakan. Overall, film ini benar-benar mengecewakan, tak lebih dari humor dialog sarkas, dan montase berantakan yang dipaksakan logis sebagai film Batak. (MG)





Baca selengkapnya
Viu Pitching Forum Dialog Film di Medan

Viu Pitching Forum Dialog Film di Medan

Guna mendukung berkembangnya industri perfilman nasional, dengan memberi kesempatan bagi para filmmaker berbakat dalam mendapatkan bimbingan dan mewujudkan projek film mereka, Viu menggelar Viu Pitching Forum.
Rangkaian acara Viu Pitching Forum akan di mulai dengan kegiatan Dialog Film yang akan dibimbing oleh Nia Dinata – Sutradara dan Produser ternama Indonesia dan Myra Suraryo Head of Marketing and Ad Sales dari Viu Indonesia. Kegiatan Dialog Film Viu Pitching Forum akan diadakan di Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Padang, manado, Balikpapan, Surabaya, Bali, Medan, dan Tangerang. Dari tanggal 14 Januari – 12 Februari 2019. Untuk keterangan lebih lanjut silakan cek social media Viu Indonesia
Medan kali ini berkesempatan akan disambangi tim VIU Pitching Forum pada tanggal 9 Februari 2018 bertempat di Co Hive at Clapham Ruko Center Point Blok G No III/IV Lt 2 Medan.
Buat Kalian para sineas kota Medan bisa langsung menghubungi narahubung contact person di Medan. Yuk ikutan dialog film VIU Pitching Forum. Agar kamu paham bagaimana proosedur pelaksanaan kegiatan ini.
Melalui kegiatan Dialog Film, Nia Dinata akan mengajarkan persyaratan-persyaratannya untuk mengikuti Viu Pitching Forum yaitu:
  • Sinopsis Cerita. Bagaimana cara menulis sinopsis cerita yang menarik.
  • Deskripsi Karakter. Bagaimana cara membuat deskripsi karakter (karakter utama maupun karakter pendukung).
  • Video. Bagaimana cara membuat video dengan durasi 30 detik – 1 menit yang isinya mewakili sinopsis cerita yang nantinya dapat menjadi video presentasi pada saat akan mempresentasikan idenya.
Semua peserta harus bisa membuat itu semua yang kemudian dapat mereka kirimkan ke Viu untuk dipilih. Semua peserta harus bisa membuat itu semua yang kemudian dapat mereka kirimkan ke Viu untuk dipilih. Untuk 10 filmmaker yang paling bagus sinopsis cerita, deskripsi karakter dan videonya (proposal proyek film), Viu akan mengundang mereka untuk mengikuti kegiatan workshop profesional selama 5 hari (semua biaya ditanggung oleh Viu). Dalam workshop profesional selama 5 hari ini, 10 filmmaker muda terpilih diharuskan untuk membawa kembali proposal proyek film mereka yang berisikan sinopsis, deskripsi karakter dan video yang telah mereka kirimkan sebelumnya ke Viu, untuk disempurnakan dengan dibimbing oleh para mentor seperti: Pritagita Arianegara (Sutradara), Aline Jusria (Editor), Sammaria Simanjuntak (Sutradara-Produser), dan Andri Cung (Penulis-Sutradara) Bayu Pontiagus (Business Commercial).
Hasil dari kegiatan workshop profesional, para filmmaker berbakat terpilih akan mendapat kesempatan untuk mempresentasikan proposal proyek film impian mereka kehadapan para juri yang berisikan nama-nama besar di perfilman Indonesia seperti Nia Dinata, Lucky Kuswandi, Melissa Karim dan Myra Suraryo dari tim Viu Indonesia, sehingga pada akhirnya proposal proyek film terpilih akan diproduksi dan didanai.
Tertarik untuk mendapat kesempatan mendapat bimbingan para pakar dan mewujudkan proyek film impian kamu? Jadi tunggu apa lagi? Ikuti Dialog Film-nya di kota kamu! atau segera kirimkan proposal proyek film impian kamu ke Viu Pitching Forum!
Syarat & ketentuan Viu Pitching Forum:
  • Laki-laki dan perempuan.
  • Peserta sudah memiliki akun Viu Premium 1 bulan yang aktif dan menyertakan alamat email/FB account/Google+ account yang terdaftar di akun premium aktif.
  • Suka menulis dan punya passion dalam membuat film.
Syarat karya peserta kirim melalui email pitchtoviu@vuclip.com
  1. Data diri berupa : Nama, No Hp, Alamat lengkap, Email yang digunakan untuk berlangganan Viu.
  2. Sinopsis cerita, dengan minimal 300 kata dan maksimal 500 kata. Karya disimpan dan dikirim dalam format .PDF.
  3. Deskripsi karakter, baik karakter utama maupun karakter pendukung. Karya disimpan dan dikirim dalam format .PDF
  4. Video, dengan durasi 30 detik – 1 menit yang dapat mewakili sinopsis cerita.
  5. Kirim email ke pitchtoviu@vuclip.com dengan subject dan Format penulisan file: Nama Peserta_Judul Cerita.
  6. Periode pengumpulan: 20 Januari 2019 – 28 Februari 2019.
  7. 10 pemenang akan mengikuti boot camp bersama Nia Dinata dan mentor lainnya.

Baca selengkapnya
Kembalinya Keluarga Cemara (2019)

Kembalinya Keluarga Cemara (2019)



Medan, Film Medan - Akhir - akhir ini, semakin banyak tontonan lawas Indonesia yang kemudian diangkat kembali menjadi sebuah film. Seperti Wiro sableng dan Si doel The Movie. Serial televisi "Keluarga Cemara" pun akhirnya menyusul. Film Keluarga Cemara produksi Visinema Pictures bekerjasama dengan Kaskus dan Ideosource merilis trailer

Dalam poster ini juga tampil Ara yang diperankan oleh Widuri Puteri di tengah poster sedang memakai kostum pohon cemara dengan wajah yang ceria dikelilingi oleh Abah, Emak, Euis dan pemeran pendukung lainnya seperti Yasamin Jasem, Kafin Sulthan, Asri Welas, Maudy Koesnaedi dan Joshia Frederico.

Selain keempat tokoh sentral tersebut, film ini juga akan menampilkan akting apik dari Asri Welas, Maudy Koesnaedi, Gading Marten, dan masih banyak lagi. "Keluarga Cemara" rencananya akan menemani liburan Tahun Baru penonton Indonesia

Sutradara Yandy Laurens yang juga turut serta menuliskan naskahnya berharap film Keluarga Cemara bisa menjadi hiburan yang menyenangkan bagi seluruh keluarga di awal 2019. Serial Keluarga Cemara sendiri ditulis oleh Arswendo Atmowiloto dan tayang perdana pada Oktober 1996 hingga berakhir tahun 2005. 

Sinetronnya diperankan Adi Kurdi serta Lia Waroka, Novia Kolopaking, dan Anneke Putri. Setiap episode memotret kehidupan mereka sehari-hari sebagai keluarga ekonomi pas-pasan. Versi filmnya akan memfokuskan sejarah awal tentang keluarga ini, sebelum kisah yang sudah ditampilkan dalam sinetronnya. 


Soundtrack-nya Bikin Luluh!

Siapa yang tidak kenal Bunga Citra Lestari? Lagu “Harta Berharga” yang dulu dibawakan Novia Kolopaking ini sukses dinyanyikan ulang oleh BCL. Tanpa lagu ini pun, sebetulnya penonton pasti akan menangis karena film ini. 

Film yang diproduseri oleh Anggia Kharisma (dwilogi ‘Filosofi Kopi’) dan Gina S Noer (Rudy Habibie) ini direncanakan siap membuat Anda mengharu-biru di bioskop.



Jangan lupa untuk kembali ke keluarga awal tahun nanti, sebab film Keluarga Cemara akan rilis 3 Januari 2019 di bioskop kesayangan Anda.


Baca selengkapnya