Update Film • Komunitas • Info Nonton • Medan
Home About Contact
Breaking
HARI FILM NASIONAL: MEDAN KOTA FILM, KAPAN LAGI?
Update

HARI FILM NASIONAL: MEDAN KOTA FILM, KAPAN LAGI?


Medan – Filmmedan -
Dalam rangka memperingati Hari Film Nasional 30 Maret 2023 dilakukan kegiatan Screening & Discussion yaitu dengan menonton tiga film serta diskusi bersama para sutradara serta perwakilan DPRD dan perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumatera Utara yang berada di Aula YPPIA, Jalan Dr Mansyur III No.1. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 50 penonton yang terdiri dari masyarakat umum, pelajar, dan mahasiswa.  film yang ditonton yaitu Sungai Ular, Memutar Limbah Peradaban dan Demi. Film “Sungai Ular” berdurasi 90 menit yang digarap pada tahun 1961 dan disutradarai Jacob Harahap. Kedua, film documenter “Memutar Limbah Peradaban” dengan durasi 28 menit, dan yang terakhir menayangkan film pendek “Demi” dengan durasi 17 menit.

Film dokumenter Memutar Limbah Peradaban disutradarai oleh Andi Hutagalung dengan lokasi syuting di TPA Marelan. Film ini bercerita tentang pengolahan sampah plastik untuk didaur ulang sehingga dapat mengurangi jumlah sampah plastik di Kota Medan. Film ini juga memotivasi masyarakat untuk memilah sampah plastik agar dapat didaur ulang dengan menggunakan teknologi yang dapat menghasilkan uang. Dalam diskusi setelah menonton film ini, para penonton diharapkan lebih sadar akan lingkungan dan pentingnya memilah sampah. Namun, pemerintah masih kurang peduli dalam memfasilitasi mesin yang dapat menghancurkan plastik. 



Film yang ditonton berjudul Demi, film pendek yang disutradarai oleh Ori Semloko Sembiring dengan lokasi syuting di Tembung. Dan Penulis Naskah yang ditulis oleh Dr. Immanuel Prasetya Ginting, M.Hum dan Yesika Natalina Sidabutar, S.S. Film ini bercerita tentang keluarga yang bertahan di masa pandemi karena ayahnya terkena COVID-19. Dalam diskusi setelah menonton film, para penonton menyatakan film ini dapat memberikan pengalaman dan perspektif baru tentang bagaimana keluarga dapat bertahan di masa pandemi.

Diskusi yang diadakan setelah menonton kedua film diatas membahas tema "Medan Kota Film. Kapan Lagi?" dan diikuti oleh beberapa narasumber yaitu Daniel Irawan (Kritikus Film), Viza Vandhana, S.E (Kadis Pariwisata dan Ekonomi Kreatif), Afif Abdillah, S.E. (Komisi III DPRD), Andi Hutagalung (Filmmaker) dan Ressy Dwiana Tarigan (Dosen UMA). Dalam diskusi tersebut, Pak Fizal menyatakan bahwa pemerintah mendukung industri perfilman di Kota Medan dan akan mendukung kreativitas anak muda termasuk di bidang perfilman.



Bapak Hafif menyatakan bahwa DPRD mendukung anggaran untuk film lokal Medan dan siap memperjuangkan anggaran serta aturan-aturan untuk meningkatkan kreativitas di bidang perfilman. Komisi III DPRD juga mendukung acara MIFFest (Medan Internasional Film Festival) 2023 yang akan datang di bulan Juni. Ori Semloko, sebagai Direktur Festival, mengungkapkan bahwa MIFFest2023 akan menjadi sebuah festival film yang menampilkan film-film berkualitas dari sineas Sumut maupun Internasional untuk dinikmati oleh masyarakat Kota Medan, khususnya karena festival tersebut akan diselenggarakan di ibu kota Provinsi Sumatera Utara.

Sementara itu, Pak Daniel menyatakan bahwa potensi Kota Medan untuk industri film cukup besar meskipun jarak waktu yang cukup lama terpisah dengan masa kejayaan film Medan di masa lalu serta kurangnya SDM dan peralatan yang memadai tetapi tidak menutup kemungkinan industri film di Medan masih dapat berkembang ke arah yang lebih baik lagi. Adapun diskusi dengan Ibu Ressy Dwiana mengenai film yaitu perbandingan antara film lokal medan dengan film Korea serta menceritakan perkembangan film Korea hingga sukses sekarang yang dapat memotivasi untuk membuat film lokal menjadi sukses. Kegiatan screening film ini diharapkan dapat memotivasi para penonton dan masyarakat Kota Medan untuk lebih menghargai industri perfilman dan memajukan perfilman di Kota Medan.

Dengan terselengarakannya kegiatan seperti ini, diharapkan dapat meningkatkan kualitas film lokal sumatera utara dan memberikan motivasi serta dukungan bagi sineas-sineas muda untuk terus berkarya. Bukan hanya sebagai penikmat film saja namun menjadi bagian dari pembuatan film. Semoga dimasa depan, film-film lokal Sumatera Utara semakin lebih dikenal oleh masyarakat Medan.

Baca selengkapnya
Langkah-Langkah Menemukan Bahasa Sinema: Panduan Semiolinguistik Struktural
Update

Langkah-Langkah Menemukan Bahasa Sinema: Panduan Semiolinguistik Struktural



Sinema merupakan media yang menyajikan gambar figuratif dalam bentuk objek-objek fotografis yang dekat dengan kehidupan manusia. Menurut semiotik, gambar gerak figuratif dapat disebut tanda tingkat pertama, sedangkan tanda tingkat keduanya terdapat pada gerakan gambar itu sendiri. Namun, untuk memahami strategi naratif dalam sinema, diperlukan pemilihan yang cermat mengenai apa yang menjadi prioritas semiotik dalam naratif.

Pluralitas material yang terdapat dalam sinema naratif bersifat heterogen dan mampu memproduksi beragam tanda yang berbeda. Tanda-tanda tersebut terbagi dalam tiga kelas utama, yaitu tanda ikonik, tanda linguistik, dan tanda musikal.

Setelah sinema diperkenalkan sebagai suatu kreasi artistik di Prancis setelah Perang Dunia II, terdapat usaha untuk membangun paramasastra sinema (grammaires du cinéma) untuk memahami sinema seni yang bergantung pada bahasa. Pendekatan ini sangat menekankan pada pembentukan paramasastra normatif. Melalui pendekatan estetika normatif ini, bahasa sinema tidak dioposisikan dengan sistem bahasa, tetapi justru beroposisi dengan sastra. Pendekatan model ini memberikan daftar panjang hal-hal yang harus dihindari dan kesalahan-kesalahan fatal yang tidak boleh dilakukan agar sutradara tidak terlalu sembrono dalam mencetak efek stilistika khusus.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk memahami sinema sebagai bahasa adalah semiopragmatik, atau semio-linguistik, yang dikembangkan oleh Roger Odin. Pendekatan ini memandang film secara semiologis dengan pendekatan kebahasaan, dan bergantung pada linguistik struktural model Saussure. Pendekatan ini tidak memfokuskan pada penggunaan bahasa dalam sinema, melainkan lebih pada mekanisme bahasa dalam sinema.

Menurut pendekatan ini, hal-hal yang penting dalam sinema harus diuji terlebih dahulu mengenai relevansi semiolinguistiknya. Hal-hal yang tidak memiliki relevansi semiolinguistik, seperti masalah ekonomi, administrasi, teknologi, dan sosiologi publik, akan diabaikan. Semiopragmatik hanya membatasi objeknya pada keseluruhan film, dengan membedakan antara fakta sinematografis dan fakta filmis.

Fakta sinematografis adalah hal-hal yang terkait dengan film secara langsung, seperti sinematografi, musik, dan dialog. Fakta filmis adalah hal-hal yang tidak terkait dengan film secara langsung, seperti tempat, waktu, dan karakter. Pendekatan ini juga mengembangkan konsep sinema sebagai tanda, yang terdiri dari pesan, medium, dan konteks.

Halaman : 1 2 3



Baca selengkapnya